Terserang Diare, Perlukah Obat Penghenti BAB?

Senin, April 15, 2019

Halo ... Apa kabar? Oops, kok sapaanya kaya program infotainment ya, qiqiqi ... Yang ngerti berarti kita seumuran... *LOL*

Okey, tulisan kali ini saya mau bahas seputar Diare. Saya bahas secara general saja ya untuk anak dan dewasa.

Penanganan diare pada anak
Gambar oleh Derneuemann dari Pixabay

Bagi para ibu yang perlu effort besar untuk menaikkan berat badan anak, maka diare adalah momok. Bagaimana tidak, sehari saja anak diare berat badan anak langsung turun lebih enteng dari biasanya.

Sebetulnya bukan itu sih poinnya. Ada hal yang lebih dikhawatirkan dari sebuah kasus bernama diare yaitu dehidrasi!

Kasus diare ini tidak memandang usia, jenis kelamin, apalagi status sosial. So, setiap individu penting berupaya menjaga amanah kesehatan yang sudah diberikan oleh sang Maha Pencipta.

Apa sih Diare?

Diare adalah gangguan pencernaan yang ditandai dengan buang air besar yang sering dan konsistensinya lebih encer dari biasanya, bisa dengan atau tanpa lendir dan darah. Beberapa litaratur menyebutkan setidaknya buang air besar encer minimal 3x dalam 24 jam. Angka ini dapat kita jadikan patokan untuk di rumah ya agar bisa menilai sendiri kapan perlu ke dokter atau penanganan lebih lanjut.

Diare dan muntah adalah upaya tubuh untuk mengeluarkan racun, virus atau kuman yang masuk dan menginvasi pencernaan. So, kira-kira efektifkah obat penghenti BAB bila sebenarnya yang kita paling kita butuhkan adalah mengeluarkan toxin penyebab diare? Obat-obat penghenti diare hanya mengurangi gejala bukan mengobati penyakitnya.

Gejala yang bisa menyertai:

a. Sakit perut
b. Kram perut
c. Mual dan muntah
d. Sakit kepala
e. Kehilangan nafsu makan
f. Haus
g. Demam
h. Dehidrasi
i. Darah pada feses
j. Lendir pada feses

Bisa jadi hanya ada satu atau dua poin yang menyertai, namun bila ada kekhawatiran akan gejala tertentu, silakan temui dokter ya, Bu.

Baca juga : 10 Hal yang perlu diketahui saat demam

Penyebab Diare itu ...


Tidak semua diare perlu antibiotik, maka mengetahui penyebab itu penting agar terapinya tepat.

1. Mikroorganisme patogen (bakteri, parasit, dan paling sering virus). Virus penyebab diare yang paling sering adalah rotavirus dan norovirus. Sementara bakteri yang dapat menyebabkan diare adalah E. coli, Salmonella, Shigella, dan Campylobacter.
2. Keracunan makanan atau mengonsumsi makanan yang sudah basi.
3. Penggunaan obat-obatan, misalnya: pemakaian antibiotik yang tidak rasional sehingga mengganggu keseimbangan bakteri baik dalam usus.
4. Malabsorpsi (gangguan penyerapan makananan)
5. Alergi makanan tertentu, bisa juga intoleransi laktosa, misal susu.

Lalu, apa yang perlu dilakukan?


1. Cegah dehidrasi

Ganti cairan yang hilang dengan minum lebih banyak serta berikan cairan rehidrasi oral (CRO), oralit untuk orang dewasa dan pedialit untuk anak-anak. Untuk memudahkan perhitungan berapa banyak cairan yang dibutuhkan, berikut saya berikan rumus kebutuhan cairan pada anak ya. Kalau pada orang dewasa kan minimal 8 gelas/hari.

Rumus kebutuhan cairan pada anak perhari, penting untuk mengetahui berapa berat badannya, ya!

10 kg pertama : 100ml/kgBB
11-20 kg : 1000ml + 50ml/kgBBsisanya
> 20 kg : 1500ml + 25ml/kgBBsisanya.

Contoh
Seorang anak dengan BB 9 kg, maka kebutuhan cairannya adalah 900ml/hari.
Seorang anak dengan BB 15 kg, maka kebutuhan cairannya adalah 1000 ml ditambah 50mlx5 kg BB sisanya, yaitu 1250ml/hari.
Seorang anak dengan BB 22kg, maka kebutuhan cairannya adalah 1500ml ditambah 25mlx2kg BB sisanya, yaitu 1550 ml/hari.

Bila terjadi deman, jangan lupa tambahkan 10% kebutuhan cairan setiap kenaikan 1 dercel.


2. Jika bayi masih menyusui, berikan lebih banyak ASI

Bila masih fase ASI Eksklusif perbanyak frekuensi pemberian ASI. Biasanya sih bayi yang ASI Eksklusif jarang sekali sakit hingga usia 6 bulan karena memiliki antibodi yang baik. Kecuali bila sudah mulai diberikan MPASI dini atau kebersihan yang tangan bayi yang kurang dijaga.

Pada bayi/anak berusia 6-24 bulan juga persering pemberian ASI disertai CRO (pedialit).

3. Pertimbangkan pemberian zink

Zink baik untuk melindungi usus anak bahkan mampu mencegah rekurensi (kambuh) juga mempersingkat durasi diare namun sayangnya memiliki efek samping mual hingga muntah. Maka pada kasus diare yang disertai mual atau muntah, bisa ditunda penggunaan zink, bila sudah hilang mual muntahnya lanjut berikan zink. Bila tanpa mual dan muntah maka berikan suplemen zink.

WHO dan UNICEF merekomendasikan:
Anak > 6 bulan: suplemen zinc 20 mg 1xsehari
Anak < 6 bulan : suplemen zinc 10 mg 1xsehari
Berikan setiap hari selam 10-14 hari.

Pada orang dewasa supplemen zink tidak diperlukan karena usus pada orang dewasa sudah terbentuk sempurna, sementara efek samping zink tetap bekerja. Jadi sebaiknya tidak perlu diberikan.

4. Berikan probiotik

Probiotik mengadung kuman baik yaitu Lactobacillus acidophillus, yang biasa didapatkan dari yogurt. Contoh probiotik yang mungkin kita kenal adalah Lacto-B atau Interlac. Probiotik dapat menenangkan iritasi pada usus besar, namun begitu jangan berlebihan dalam pemberiannya.

Perlukah antibiotik pada kasus diare?


Kasus diare yang disebabkan oleh virus tidak memerlukan antibiotik, biasanya akan sembuh sendiri seiring daya tahan tubuh yang semakin baik.

Bila disebabkan oleh bakteri maka antibiotik sangat diperlukan, begitu juga yang disebabkan oleh parasit misalnya amoeba maka diperlukan antiamoeba.

Pemberian antibiotik untuk diare harus dibawah pengawasan dokter. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional atau tidak sesuai peruntukannya selain tidak bermanfaat juga dapat membahayakan karena dapat menyebabkan bakteri menjadi resisten terhadap antibiotik tersebut, bahkan beberapa efek sampingnya menyebabkan diare bertambah berat.Oleh karena itu, perhatikan kapan penderita diare harus menemui dokter.

Baca juga Seluk-Beluk Mengenai Batuk

Hubungi dokter jika ...


Ingat, bila diare terlihat semakin parah jangan berupaya mengobati sendiri di rumah, segeralah bawa ke dokter bila menemui hal-hal berikut:


  • Diare berlangsung > 1 minggu
  • Ada darah pada feses/tinja
  • Muntah sering
  • Demam tinggi
  • Terlihat sangat lemah
  • Ditemukan tanda-tanda dehidrasi, yaitu:
  • Buang air kecil berkurang
  • Tidak ada air mata bila menangis 
  • Mata, ubun-ubun, atau perut cekungT
  • Tidak mau minum 
  • Mulut kering
  • Terlihat sangat kehausan 
  • Bila dicubit, kulit tak cepat kembali 
  • Terlihat mengantuk dan tidak responsif


Perlukah pemeriksaan laboratorium?


Sebetulnya perlu pemeriksaan laboratorium pada tinja orang yang diare terutama bila diare tak kunjung reda dalam 3 hari. Tujuannya agar kita ketahui betul apa penyebabnya agar terapinya pun tepat.

Oleh karena itu, bila nanti saat konsultasi dengan dokter dan disarankan periksa feses maka lakukanlah. Namun bila ingin melakukan pemeriksaan lab secara mandiri pastikan pemeriksaan tinja ini tidak boleh lebih dari satu jam setelah pengambilan sample dan pastikan wadahnya steril agar hasilnya tidak bias. Meski begitu, hasilnya tetap harus dikonsultasikan pada dokter.

Do's and don'ts jenis makanan pada saat diare


Kadang kita bingung saat anak atau salah satu anggota keluarga ada yang diare, apa yang boleh dan tidak boleh dimakan. Nah berikut jenis makanan yang dianjurkan pada saat diare:

1. Diet BRAT

Ini merupakan singkatan dari Banana (pisang), rice (nasi), applesauce (apel yang dihaluskan tapi bukan dijus), dan toast (roti panggang).

Untuk pisang berikan yang matangnya pas, sementara untuk nasi berikan yang sedikit lembek agar organ cerna tidak bekerja terlalu berat. Pemberian apel pada penderita diare juga dianjurkan karena dalam apel mengandung kaolin, pectin dan kalium sama seperti pisang yang fungsinya dapat memadatkan feses. Kemudian untuk roti pilih roti tawar bukan roti gandum ataupun roti dengan isian seperti coklat.

Diet BRAT tidak dianjurkan untuk jangka panjang karena minim gizi.


2. Kuah Sup

Saat diare tentu membutuhkan banyak cairan, salah satunya bisa didapatkan dari kuah sup ayam. Boleh dimakan ayamnya (tanpa lemak) dan hindari sayurannya.

3. Yogurt

Penjelasannya sama dengan probiotik tadi ya.

4. Cairan

Jangan lupa berikan banyak cairan terutama yg mengandung elektrolit, seperti oralit (dewasa) atau pedialit (anak-anak).

Lalu, apa saja makanan dan minuman yang tidak boleh diberikan selama diare:

1. Makanan berminyak dan berlemak

Makanan jenis ini bisa memperlambat pengosongan lambung, sehingga dapat membuat kembung. Dengan demikian gorengan, santan, lemak coret dulu ya.


2. Susu

Saat diare, usus kesulitan memproduksi enzim laktase. Enzim ini diperlukan untuk mencerna laktosa yaitu gula yang ada pada produk susu. Namun kita boleh mengonsumsi yogurt karena mengandung probiotik. 

3. Makanan pedas dan asam

Dalam cabai mengandung zat capsaicin, zat ini dapat memberikan rasa pedas yang nikmat. Namun begitu, konsumsi cabai saat diare harus dihindari karena dapat mengiritasi saluran cerna, begitu pula dengan makanan yang asam.


4. Kurangi pemanis buatan

Pemanis buatan seperti sorbitol dapat memberi efek perut menjadi kembung, sehingga baiknya dihindari saat diare. Contohnya bisa ditemukan pada : minuman bersoda, permen karet, makanan dan minuman bebas gula.

5. Sayuran dan buah-buahan yang bergas

Pada orang sehat kedua jenis makanan ini memang baik dikonsumsi, namun saat diare harus dijauhi dulu ya, pasalnya sayur dan buah yang kaya akan serat dapat memperburuk keadaan, terutama serat tak larut air.

Begitupun dengan sayuran dan buah-buahan bergas dapat menegangkan dinding saluran pencernaan. Contohnya kembang kol, sayuran berdaun hijau, paprika, buncis, kubis, anggur, ceri, durian, nanas, dan lainnya.

Makanan berserat yang dibolehkan adalah jenis oligosakarida dan polisakarida yaitu yang memiliki serat larut, contohnya oat, kentang, pisang, dan singkong.

6. Kafein

Kafein memiliki sifat diuretik, istilah gampangnya bikin kepingin pipis terus, sementara saat diare kita membutuhkan banyak cairan. Tak hanya itu, kafein juga dapat merangsang kontraksi pada usus sehingga kalau dikonsumsi saat diare dapat memperparah diarenya.

Bagaimana pencegahannya?


Mencegah tentu saja lebih baik daripada mengobati. Upaya pencegahan pada diare lebih menekankan pada kedisipilinan diri dalam menjaga kebersihan.


1. Menuci tangan

Biasakan mencuci tangan dengan sabun, terutama pada saat sebelum dan sesudah makan, sehabis dari toilet, setelah menyentuh daging mentah, setelah bersin atau batuk.


2. Minum air matang

Air mentah atau yang tidak dimasak dengan baik beresiko mengandung bakteri E.coli yang menjadi penyebab diare.


3. Cuci bersih sayuran dan buah

Beberapa sayuran dapat dimakan secara mentah dan mengonsumsi sayuran mentah ini memang sangat baik namun perhatikan kebersihannya. Pastikan sudah dicuci dengan air mengalir. Begitu pun dengan buah-buahan meski akan dikupas kulitnya, pastikan dicuci juga.


Jangan pandang sebelah mata


Menurut data WHO, diare merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian kedua setelah pneumonia pada anak dibawah lima tahun. Melihat hal ini, kasus diare tidak bisa kita pandang sebelah mata. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan adalah upaya pencegahan yang mampu menekan angka mobiditas dan mortalitas tersebut.

Namun bila diare sudah menyerang, jangan lupa untuk meningkatkan asupan air agar tubuh tidak dehidrasi juga cermati tanda-tanda lain. Obat penghenti BAB tidak dianjurkan dan bila diare terus berlanjut segera hubungi dokter, ya!

Semoga bermanfaat ❤

You Might Also Like

10 komentar

  1. dulu aku sempet ga tau kalo pada saat anak diare ato dewasa juga, jgn dikasih susu krn bisa memperparah. ternyata bener yaaa. sebelum tau itu aku ksh susu ke anakku supaya setidaknya perutnya ga kosong. tp tiap dikasih, pasti muntah lg. suami termasuk yg perutnya sangat sensitiv.makanya pilih makanannya jg hati2 banget

    BalasHapus
  2. kalau saya diare dilihat dulu, krn sy memang sering diare krn cuaca maupun psikis, klkrn cuaca , sy gak pernah diobati kl sudah siangan gak bakal mules lagi tp kl disertai mules dan sakit perut baru diobati

    BalasHapus
  3. anakku yang bungsu pernah diare sampe dehidrasi yang berujung di opname selama 6hari :(( makanya aku selalu sedia zinc dan lacto B di rumah, kalau sudah diare 3 hari langsung ku bawa ke UGD

    BalasHapus
  4. Yang sudah kena doktrin akut bagi saya dan keluarga adalah kalau ada yang kena sakit diare pasti ingatnya ke oralit. Sejak kecil sampai sekarang saya pun masih seduh oralit kalau kena diare

    BalasHapus
  5. Kalau anak2 yang diare saya ga pakai obat pemampet diare hehehe.
    cuman kasi prebiotik dan zinc

    Pastinya sambil terus dipantau agar tidak dehidrasi.
    kalau orang dewasa, baru deh saya sibuk kasih obat pemampet, minum teh panas pekat

    anak saya pernah nih di rawat di RS karena diare hiks

    BalasHapus
  6. Baru kemarin nih, seharian kena diare dan rasanya yahud banget, bolak balik kamar mandi dan akhirnya lemes. Kalau saya ga beli obat, minum air teh pahit hangat juga air putih yang banyak paginya lumayan berkurang diare yang saya alami.

    BalasHapus
  7. Sukak sedih ya kak kalo udah anak yang diare, badannya lesu dan rewel aja. Tapi aku salah satu caranya adalah pemberian asi banyak dan coba liat perkembangan selama 3 gari. Kalo sudah 3 haru masih begitu baru ke dokter

    BalasHapus
  8. Wah, nambah pengetahuan banget ini. Aku suka bandel kalo lagi diare. Mentang2 gak mules, aku tetep makan pedes dan berminyak. Jadinya diare gak sembuh2. :(

    BalasHapus
  9. Suka banget ulasannya, saya sering beri info tmn saat anaknya diare, harus banyak minum terlebih lg minumnya saya ganti yang berkadar oksigen tinggi. Sharing itu dari pengalaman pribadi saat si sulung lwmas karena diare, dan saya menemukan cara spt diatas dan dalah satunya minum cairan tersebut. Alhamdulillah, adanya ulasan ini bisa jadi referensi saat ada kerabat yg mengalami diare, lgsg di share artikelnya boleh ya mba:)

    BalasHapus
  10. Iya, aku kalau pas diare biasanya nyari yoghurt. Memang pernah baca sih katanya sebetulnya kalau diare itu nggak selalu harus minum obat. Tapi kalau ngeganggu aktivitas banget, terpaksa akhirnya aku minum obat yang bikin berhenti badai di perut. Hehehe...

    BalasHapus