Haruskah Perempuan Bisa Memasak? Yay or Nay?

Rabu, April 10, 2019

Haruskah perempuan bisa memasak? Yay or Nay?

Kita semua pasti setuju kalau makan itu untuk hidup. Namun, untuk bisa menikmati hidangan yang lezat tentu perlu proses yang namanya masak. It means masak dan makan itu menjadi suatu proses penting bagi kelangsungan hidup, right?


Di tengah kemajuan zaman masa kini, peran memasak seolah bukan lagi kewajiban seorang perempuan. Buanyak kemudahan yang bisa didapatkan untuk memenuhi kebutuhan akan rasa lapar. Lapar melanda? Telepon saja 150**, bosen yang itu-itu saja? Klak-klik pesan di G*Food, makanan pun datamg diantar. Jadi, hari gini masih ribet urusan masak? Hellow! Ituuu buat sebagian orang yang memandang masak tak lagi menjadi keterampilan yang wajib dimiliki seorang perempuan.

Bisa memasak itu tak perlu memandang gender. Banyak memang laki-laki yang menjadi koki-koki handal. Malah umumnya di hotel-hotel ternama chef itu ya kebanyakan laki-laki. Namun, bagaimanapun bisa memasak itu is a must!

Bisa memasak ya bukan pandai memasak. Saya bukan tipe orang dengan kecerdasan naturalistik yang baik. Saya tidak pandai dalam menjahit, memasak, juga merawat binatang. Semua sekadar bisa. Bisa menjahit? Bisa, tapi nggak bagus, yah lumayanlah menyatukan sisi kain yang bolong. Bisa merawat binatang? Bisa, tapi nggak telaten, bisa kalau cuma ngasih makan saja sih. Bisa memasak? Yah bisa, tapi nggak jago-jago banget, setidaknya ketika diri saya lapar saya bisa memasak untuk saya pribadi. Apalagi anak yang lapar, hmm ... naluri keibuan langsung keluar deh untuk memasak.

Lalu haruskah perempuan bisa memasak? Buat saya, iya! Kita tidak akan pernah bisa merasakan berharganya ketika anak memilih masakan kita sebagai makanan favoritnya, demikian juga suami. Kalau saya boleh meminjam istilahnya mba Dewi Lestari, ini lah yang disebut sentimental value dari sebuah masakan.

Bagi saya perempuan itu ya harus bisa memasak, karena apa? Karena di tangan ibu yang penuh cinta, hanya bahan makanan yang baik yang akan dipilihnya. Makanan akan sampai pada tubuh keluarga menjadi daging yang sehat serta terjaga dari berbagai macam kuman.

Perempuan itu harus bisa memasak terlepas apakah ia bekerja di rumah atau di kantor karena memasak menjadi salah satu keterampilan yang wajib dimiliki anak perempuan.

Setidaknya meski ia tidak memasak secara langsung namun karena ia tahu dan mengerti, ia jadi bisa men-supervisi mba yang memasak di rumah. Kualitas bahannya bagus tidak, cara memasaknya bagaimana, bumbunya apa saja, dapur dan cara kerjanya rapi tidak.

Banyak keuntungan yang bisa didapatkan seorang wanita bila ia bisa memasak, antara lain


1. Meningkatkan bonding keluarga

Alhamdulillah suami saya tidak pernah menolak hasil masakan saya, meskiii rasanya jauh dari ekapektasi. Dia akan selalu ucapkan "terima kasih" lalu dia berusaha habiskan. Hihihi, kadang rasa yang tidak sesuai harapan justru membawa kenikmatan lain, karena merasa bersalah, malah jadi berpelukan sambil maaf-maafan.

Begitu juga dengan anak. Kalau kita bisa masak kita juga jadi bisa mengajaknya memasak bersama. Anak itu senang lho meski sekadar dimintai tolong melumuri ayam dengan tepung. Kosakata bertambah, pengalaman bertambah, bonding pun makin kuat.

Baca juga : Peran Ibu dalam Membangun Peradaban

2. Menghemat pengeluaran keluarga

Buat saya kerasa bedanya, masak sendiri dengan jajan di luar. Kadang sekali makan di luar bisa dibeli buat bahan makanan untuk satu minggu ke depan. Lagi-lagi tanpa memandang penghasilan, penghematan itu perlu untuk melatih self-control. Hemat lho ya bukan pelit!

3. Bisa kreasikan masakan

Ada saat-saat di mana tukang jualan libur, contohnya saat libur idul fitri. Ini kerasa banget, sayuran yang dijual rerata mulai layu, mencari lauk pun susah. Dengan kita bisa masak kita bisa mengkreasikan bahan yang ada di kulkas untuk kita olah. Sekadar nasi goreng, tumis tahu, atau orek telur, no problem!

Satu lagi, kadang kita itu rindu banget dengan suatu makanan yang langka atau kalaupun ada ya nun jauh di sana. Dengan bisa memasak kita bisa mengobati kerinduan akan hal itu dengan mengkreasikan sendiri makana yang kita mau.

4. Makanan sehat untuk keluarga

Kalau kita bisa memasak, anak jadi terhindar dari jajanan-jajanan yang kurang sehat. Misal, anak ingin telur gulung, kalau ibu bisa membuatnya tentu lebih sehat karena pakai minyak goreng yang baru. Anak ingin es cincau, kalau ibu bisa membuatnya cincaunya asli tanpa bahan pengawet, es nya pun sehat karena dipastikan menggunakan air matang.

5. Cara lain berolahraga

Banyak anggota tubuh yang bergerak ketika memasak. Apalagi sambil memasak sambil mencuci piring atau sebagian peralatan yang sudah digunakan. Hmm ... pasti bolak-balik antara kompor dan wastafel kan.

Belum lagi saat mengiris, menggeprek daging, mengocok telur, berjalan kemudian berjongkok mencari bahan makanan di kulkas, wew ... bukan isapan jempol kalau memasak bisa menjadi alternatif lain berolahraga. Tapiii, jangan kemudian menghilangkan olahraga dari daftar harian aktivitas kita ya.

Itu hanyalah sebagian dari sekian banyak manfaat lainnya dari memasak. So, bagaimana menurut kamu haruskah perempuan bisa memasak? Feel free to share your comments below ;)

You Might Also Like

15 komentar

  1. Setuju banget buat semuanya mbak Dwi, aku masuk orang yang merasakan keuntungan diatas, apalagi hemat dan bonding. Pernah saya dengar ada yang mendebatkan yang masak harus perempuan, laki jangan ke dapur, padahal kalau saya rasakan memasak masakan itu untuk hidup hihihi.
    Saya pernah lg jenuh dan males masak, ingin beli aja. Eh, suami masih lagi punya selera lgsg ke dapur untuk memasak, jadi kalau suami bersedia ntuk ke dapur sebenarnya bisa nuruti apa yang diingin untuk memasak (suami) dan lebih hemat hehehehhe... Tp kembali lagi ke suami sih kalau ga mau ribet akhirnya pesan beli ya.

    BalasHapus
  2. Semuanya cocok. Anak²ku mau laki perempuan harus bisa masak (sederhana) sebagai langkah survival sih. Suami juga engga canggung kok ke dapur. Oseng parianya endez. Hehe...Tapi eerrr...skrng aku malas masak uy. Soalnya cuma berdua, kayak yg boros gas dan males cuci wajan. Wkwkwk...

    BalasHapus
  3. sepakat Mbak Dwi. Perempuan itu harus bisa masak tapi gak harus/ wajib mahir. haha pembenaran ini buat saya.

    BalasHapus
  4. Kalo kata aku sih harus bisa. Apalagi kalo udah berkeluarga. Biar ada yang dikangenin suami dan anak-anak. Dan kita punya ciri khas. *ciyeee begitu mbak kalo kata aku hihi

    BalasHapus
  5. yes walaupun aku enggak bisa masak tapi aku berusaha untuk bisa masak setelah nikah, hihi. Tapi emang banyak manfaatnya sih bisa masak tuh, setuju banget sama keuntungan yang diatas bener semuaaa.

    BalasHapus
  6. Kalau aku sih yesss...enggak tahu kalau Mas Anang #eh
    Menurutku perempuan memang harus bisa masak meski ga harus keren..ala-ala aja, yang utama buat kesehatan dan keuangan keluarga dan alasan rinci yang ada di atas...
    Dan yakin deh meski cuma nasi goreng ketika anak atau suami makan lahap dan bilang enak itu rasanya..hepiii sekali

    BalasHapus
  7. Saya sependapat , wanita menurut saya harus bisa masak..bukan untuk suami..tapi yg penting itu untuk anak..karena anak butuh banget gizi yg baik..

    BalasHapus
  8. Membuka pikiranku, karena sebelumnya saya tipikal pemalas masak dan beranggapan beli makanan is easy dan efesien .Terima kasih mbk

    BalasHapus
  9. Aku termasuk gen mamak-mamak tukang masak mba. Hahaha. Dari subuh udah umyek di dapur. Menjelang magrib hebih lagi di depan kompor. Tapi ya gimana, keluargaku lebih suka masakan rumahan ketimbang jajan. Kecuali kalo emang akunya lagi syapek atau menu yang dipengenin aku gak bisa bikin, macam mi ayam atau baso gitu. Kalo pissa aja aku kadang masih bikin ndiri loh wkwkkw. Niat kan? Dan bonusnya cinta dari anak dan suami itu jadi penyemangat.

    BalasHapus
  10. malah saya soal masakan sebenernya kalah sama anak2. Mereka lebih tahu. Sedangkan saya dulu kebiasaan pesen ke gojek online makananan datang. juga kebiasaan malam minggu makan diluar sama keluarga. Jadilah terbiasa makanan yg waaw. Ketika makanan rumahan nampak biasa. tapi entah setelah nikah saya berusaha memperbaiki cara memasak saya dan lihat anak2 pun tetap makan hasil masakan saya jadi seneng hehe

    BalasHapus
  11. Saya sih iyess kalau perempuan kudu bisa memasak. Bisa, bukan pandai. Ini setuju juga karena saya pun tipe yg seperti itu, hihi.
    Manfaat lain menurut saya: hasil memasak bisa ditampilin di blog :)

    Karena selalu ada kisah di balik setiap masakan. Ada cinta, ada seni, dan ada kesabaran di sana.

    BalasHapus
  12. saya setuju..bahwa sebagai perempuan wajib hukumnya untuk bisa masak..setidaknya bisa membahagiakan keluarga di rumah lewat masakan..nambah ilmu makanan baru yang kadang juga bikin penasaran..untuk anak juga bisa terhindar dari jajan di luar yang belum tentu terjamin kebersihannya��

    BalasHapus
  13. Sejak kecil aku selalu dilarang masuk dapur. Mungkin riweuh karena dapur malah jadi berantakan. Jadilah beranjak dewasa aku nggak bisa dan nggak suka memasak. Begitu punya anak, masih nggak bisa masak. Merasa santai karena tinggal bareng orangtua dan itu dapurnya ibuku, wkwkwk ...

    Baru sadar kalau mesti bisa masak saat jauh dari rumah. Kost? Bukan. Traveling? Bukan juga. Tapi saat naik gunung. Berhari-hari di gunung, nggak mungkin kan mau makan indomie terus? Yaaa, akhirnya bikin nasi gorenglah, tumis lah, jadi sadar memasak itu mesti bisa. Enak nggak enak, belakangan aja, hahahaha ...

    BalasHapus
  14. Setujuuuu
    Sy bisa masak
    Tp macak kok tak bisa q makkkk
    Tak pede jg hiii

    BalasHapus
  15. Bun aku setuju makan untuk hidup. Yang penting jangan sampai kebalik ya hidup untuk makan hihihihi. Aku juga setuju ama semua di atas, karena itu semua aku jadi mau belajar masak. Apalagi kalau beli mahal ya ��

    BalasHapus