Antara Ilmu dan Akhlak; Disarikan dari Kajian Bersama Ust. Abi Makki

Sabtu, April 13, 2019


Assalamualaikum ... Apa kabar ibu-ibu solihah? Semoga semua dalam keadaan sehat dan luar biasa, Aamiin ... Tulisan kali ini merupakan ringkasan sebuah kajian islami, ilmunya insya Allah bermanfaat bagi semua usia terutama anak-anak yang memang perlu dipupuk sifat baiknya agar tumbuh menjadi pribadi yang memiliki akhlakul karimah.

Ust. Abi Makki antara ilmu dan akhlak

Ini sebetulnya kajian sudah dari tanggal 2 April namun mohon maaf baru bisa tersampaikan saat ini. Heuheu...

Baiklah kita mulai saja ... Alhamdulillah meski cuaca mendung, tak menyurutkan langkah kami untuk kembali hadir di kajian bulanan Sekolah Citra Alam. Dalam kesempatan ini hadir sebagai pengisi materi Ust. Abi Makki dengan tema "Antara Akhlak dan Ilmu".

Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata:
Saya mempelajari adab selama tiga puluh tahun dan saya mempelajari ilmu (agama) selama dua puluh tahun, dan ada-lah mereka (para ulama salaf) memulai pelajaran mereka dengan mempelajari adab terlebih dahulu kemudian baru ilmu”.

Dalam kesempatan ini Ust. Abi Makki bertanya tentang awal penciptaan makhuk, siapakah yang paling dulu diciptakan antara malaikat, manusia, jin, dan iblis? Jamak yang menjawab bahwa malaikat yang lebih dulu diciptakan. Benar! Ustadz melanjutkan bahwa mula penciptaan makhluk adalah mulai dari malaikat, iblis, jin baru kemudian manusia yaitu Nabi Adam a.s.

Awalnya Allah limpahkan tanggung jawab pada kaum jin untuk mengurus bumi. Allah katakan "Hai jin aku ciptakam kamu, agar menjaga, menmbereskan, dan mengatur bumi." Maksudnya dijadikan khalifah.

Lalu jin siap menjaga bumi, namun ternyata jin tidak becus mengurus bumi. Kurang dari 100 tahun bumi ini hancur, karena jin saling serang, saling bunuh akhirnya timbul kekacauan.

Setelah itu Allah katakan ternyata kamu jin tak bisa mengurus bumi. Kamu tinggal di bumi tapi tidak mengurus bumi. Kemudian iblis tinggi hati, merasa ia akan dipilih menggantikan jin. Iblis berharap dirinya yang jadi khalifah untuk mengurus bumi.

Namun, ternyata Allah menciptakan Adam atau manusia untuk menjadi khalifah. Iblis yang merasa senior kecewa dan keluarlah sifat buruknya. Kata iblis "kenapa nggak aku yang dipilih jadi khalifah, kan aku senior, lebih bagus, lebih jago, lebih kuat". Inilah sifat buruk iblis yaitu iri/dengki/hasad. Gara-gara hasad inilah akhlak jadi hancur. 

Baca juga : Mendidik Anak di Era Milenial bersama Ust. Bendri Jaisyurrahman
Inilah peghancur akhlak yang pertama yang ada pada makhluk Allah; iri. Kalau ada orang yang iri, akhlaknya tentu tidak bagus. Adakah yang pernah iri?

Tanda-tanda akhlak yang tidak baik beserta obatnya


1. Iri

Ini penyakit hati pertama yang ada pada makhluk Allah. Dalam kisah penciptaan Adam as, Iblis iri kenapa Adam yang harus jadi khalifah.

Tidak ada yang bisa lepas dari penyakit hati ini kecuali sedikit sekali. 
Dari Ibnu Taimiyyah rahimahullah, Rasulullah Saw bersabda:
“Setiap jasad tidaklah bisa lepas dari yang namanya hasad (iri). Namun orang yang berpenyakit (hati) akan menampakkannya. Sedangkan orang yang mulia (hatinya) akan menyembunyikannya.”
Setiap hati punya benih iri. Namanya benih ada yang tumbuh dan ada yang tidak tumbuh. Bila merasa muncul segera padamkan dengan obatnya. Apa obatnya?

Obat iri adalah rasa cinta atau mahabah. Masa sih iri hilang dengan cinta? Ya. Misal ibu adalah seorang perawat, sementara anak ibu sebentar lagi akan menjadi dokter. Kira-kira ibu iri nggak?

"Mah, Pah, aku mau jadi dokter tinggal lunasin uang ujian aja." Rasanya nggak mungkin orangtua akan bilang, "Pah .. Pah jangan dilunasin masa anak kita dokter, kita cuma perawat." Gak ada! Yang ada orangtua akan berusaha melunasi dan inilah karena adanya cinta.

Kalau ibu sangup bahagia terhadap keberhasilan teman ibu, sebentar lagi ibu akan dapatkan kebahagiaan seperti yang teman ibu dapatkan.

Apabila tak saggup bahagia terhadap hal itu, justru ibu tak akan dapat kebahagiaan tersebut. Apabila ada cinta hasad akan sirna.

2. Sombong

Kalau orang sudah iri, keluarlah sifat sombongnya. Inilah tangga kedua. Ngeri sekali ya. Orang sombong pasti iri dengan yang disombingin. Ini dua sifat yang tak bisa dipisahkan. Kalau iri pasti sombong, kalau sombing pasti iri. Belajar ilmu, ilmu, ilmu nggak punya akhlak, jadinya sombong.

Kembali kepada kisah penciptaan Adam as sebagai khalifah, iblis sombong karena merasa dirinya lebih baik, diciptakan dari api, sementara Adam dari tanah.

Obatnya adalah tawadhu rendah hati, meyakini bahwa semua adalah milik Allah.
Apa yang bisa kita banggakan? Cantik hanya sementara, ilmu hanya sementara, kaya pun hanya sementara. Bila Allah berkenan mengambilnya, maka apa yang kita miliki lagi?

Baca Juga: Peran Ibu dalam membangun peradaban bersama Ayah Irwan Rinaldi

3. Berbohong

Kembali pada kisah antara Adam dan iblis. Adam tinggal di surga dan iblis iri. Kata iblis, "Gimana caranya ya biar adam keluar dari surga?" Akhirnya iblis menipu Adam. Adam dibohongi dengan cara, "hey adam makanlah buah ini, agar engkau selamanya di surga. Kalau kau tidak makan buah ini kau akan segera diturunkan ke bumi."

Maka karena dibohongi, akhirnya diambillah buah khuldi dan dimakan olehnya. Padahal Allah Swt telah melarang Adam agar tidak mendekati pohon tersebut.

Obat dari bohong adalah merasa selalu diperhatikan Allah. Misal, ibu-ibu tak ada yang kenal saya siapa, lalu bertanya, "Ust tinggal di mana? Maka bisa saja saya berani berbohong saya katakan, saya asli dari Jerman, tinggal di Singapura, kadang di Italia." Tapi kalau ada yang kenal saya, maka saya tak berani bohong, malu euy ketahuan.

Begitu juga kita, dengan merasa diperhatikan Allah tak akan berani berbohong.

4. Ngeyel/bandel

Iblis tahu bahwa dirinya salah, tapi mengapa tak mau berubah? Pernah tidak di antara kita melakukan sesuatu yang keliru, padahal tahu itu salah? Jadi tahu salah tapi tetap dikerjakan, pernah?

Enak tidak ya berteman dengan orang yang ngeyel? Sudah dikasih tahu, tapi begitu lagi begitu lagi.

Obatnya adalah berteman dengan orang soleh. Nggak ngaji, karena orang pada ngaji pun akhirnya akan ikutan ngaji. Contoh ibu misalnya ada pengajian malam. Biasanya ibu nggak pernah solat qobliyah magrib, cuma karena lihat teman-temannya qobliyah, maka bisa jadi ibu nggak enak akhirnya, ah solat qobliyah juga deh.

5. Pelit

Tahu kisah Qobil dan Habil? Habil sukanya berternak ia memiliki kambing-kambing. Sementara Qobil sukanya bercocok tanam, ia memiliki ladang gandum. Saat Allah meminta dari hasil yang mereka miliki. Habil mempersembahkan kambing yg paling baik. Sementara Qabil mempersembahkan gandum yang buruk. Menurut Qabil, "kan aku sudah berusaha sekuat tenaga, masa aku kasih yang bagus-bagus". Sementara Habil merasa semua ini adalah karunia dari Allah jadi pantas untuk memberikan yang terbaik untuk Allah.

Obat dari pelit adalah belajar sedekah. Sedikit-sedikit lama-lama terbiasa. Tidak sedekah maka rezeki berkurang, belum tentu harta tetapi bisa juga kasih sayang dari suami, anak, atau istri. Sementara bila bersedekah maka Allah janjikan rezeki yang berlipat-lipat

6. Tamak

Kalau kita gabungkan sepasang-sepasang sifat buruk yang sudah dibahas tadi, orang sombong pasti iri, orang berbohong pasti ngeyel, dan sekarang orang pelit pasti rakus atau tamak.

Obat dari tamak/rakus adalah qanaah atau merasa cukup. Rasulullah Saw bersabda:
Andai kata anak itu memiliki emas satu lembah, niscaya ingin memiliki satu lembah lagi. Tidak ada yg dapat mengisi mulut (hawa nafsu) -nya melainkan tanah (maut). Dan Allah menerima taubat siapa saja yg bertaubat kepada-Nya. [HR. Muslim]
Utamakan akhlak baru ilmu
Kalau kita jaga yang 6 ini beserta obatnya, maka ilmu yang kita miliki insya Allah selamat. Banyak orang berilmu tapi tak punya fondasi akhlak yang kuat.

Jadi, antara ilmu dan akhlak ternyata akhlak yang perlu diutamakam. Demikianlah, mudah-mudahan ada manfaatnya, mohon maaf bila ada yang tak tersampaikan... Jazakumullah khair. 
Wassalamualaikum wr wb.

You Might Also Like

6 komentar

  1. Seharusnya ilmu memang membuat kita makin berakhlak baik dan tawadlu ya mbak, karena sesungguhnya bila lautan dipakai untuk menuliskan ilmu Allah saja tidak akan pernah cukup

    BalasHapus
  2. Teman saya pernah cerita, kalau aku mencari karyawan syarat utamanya jujur, kalau kepintaran urusan kedua. Akhlak jauh lebih penting dari pada ilmu, ya? Lebih berterima

    BalasHapus
  3. Masyaallah kajiannya begitu menampar diri banget. Jadi sadar bahwa skrg2 ini suka sombong karena punya ilmu, padahal itu bukan segalanya. Emang benar akhlak adalah sah satu yg utama. Makasih bun pengingatnya

    BalasHapus
  4. Kajian yang lengkap dan bermanfaat..
    Ketika orang berilmu tapi tak berakhlak bisa jadi dia tidak me.anfaatkannya untuk kebaikan. Melainkan untuk hal yang mungkin justru merugikan sesama.
    Memang akhlak bisa jadi dasar bertindak agar orang berilmu tak hilang arah

    BalasHapus
  5. Sebuah pencerahan yang menyejukkan jiwa, terima kasih loh mba sudah mau berbagi hasil kajiannya.

    BalasHapus
  6. Ahlak yang baik, akan menjamin penggunaan ilmu dengan baik dan benar

    BalasHapus