Tuesday, 26 February 2019

Peran Ibu dalam Membangun Peradaban Disarikan dari Kajian bersama Ayah Irwan Rinaldi


Jujur awalnya saya menuliskan ini sebagai ladang membagikan ilmu dan mengisi blog. Lantas seorang teman dalam suatu postingannya mengingatkan begini, kalau kita bertanya ke anak, "tadi di sekolah belajar apa?" dan ia menjawab "tidak tahu", respon kita biasanya gimana? Gemes gemes gimana gitu kan?

Seandainya pertanyaan yang sama dilontarkan oleh anak kepada kita, "Bunda, tadi apa isi kajiannya?" Terus kita jawab, "tidak tahu". Kira-kira gimana ya reaksi anak? @$&#?/! 

Okelah intermezzo aja sih, intinya semoga kita bisa menangkap ilmu dengan baik setiap yang mengalir pada kita ya. 

Alhamdulillah wa syukurillah, bisa kembali hadir di kajian bulanan Sekolah Citra Alam Ciganjur Jumat (22/02) lalu, bersama ayah Irwan Rinaldi yang mengangkat tema "Peran Ibu dalam Membangun Peradaban". 

Acara yang berlangsung pukul 09.00 pagi ini cukup ramai dihadiri para orangtua murid, khususnya ibu-ibu. Seperti biasa, selain mengisi lembar kehadiran tidak lupa membawa beberapa snack sumbangan dari beberapa kelas untuk menemani menyimak kajian. Jujur saja, ini salah satu hal yang membuat semangat karena makanannya enak-enak, humm... yummy!
Kajian bulanan
Pakai potluck gini memang lebih enak dan meringankan.

Tak lama kemudian, acara pun dimulai. Dibuka oleh MC, lalu pembacaan ayat suci Alquran kemudian sambutan dari Ibu Roisantunnisak selaku ketua yayasan, barulah selanjutnya memasuki acara inti. 

Ayah Irwan yang enggan dipanggil ustadz ini tampak begitu santai membuka kajian ini. Beliau bercerita bahwa kalau punya anak laki-laki rujukan kita adalah kepada keluarga Nabi Ibrahim as. Kalau kita mau masukan sekolah untuk si anak laki-laki, patokannya adalah bukan fasilitas, namun mampukah sekolah bantu mendidik anak laki-laki kita menjadi "Ismail" kita. 

Penting bagi orang tua untuk memiliki pola pendidikan terutama sesuai tuntunan agama. Misalnya saja ketika membangunkan anak tidur, tidak boleh ada yang terdengar pertama kali ketika anak bangun tidur, selain kalimat thayyibah. 
Pastikan ketika anak bangun tidur pertama kali yang ia dengar adalah kalimat thayyibah.

Ayah Irwan menuturkan bahwa menurut penelitian, kalimat thayyibah mampu mempercepat gerak synaps pada otak kanan dan kiri menjadi 1.8juta/detik. Masya Allah! Jadi, kalau bangunkan anak jangan dari jarak jauh ya. Meski Bunda sedang masak, ketika waktunya bangun solat subuh bangunkan dengan kalimat-kalimat yang baik. 

Kalau tadi anak laki-laki rujukannya adalah keluarga Ibrahim, yakni menjadi "Ismail", maka kalau anak perempuan rujukannya adalah ayahnya. Strong father, strong daughter. Bagi Bunda-Bunda, cek bagaimana hubungan suami dengan Allah, karena parenting semuanya bergantung pada ayah. Dalam sebuah keluarga ayah adalah tiangnya, jadi harus kuat untuk bersandar. Tugas Bunda adalah mengingatkan suami pada Allah. 

Pengasuhan usia 0-7/8 Tahun 


Dalam rentang usia 0-7/8 tahun, usia terbaiknya adalah usia sapih 0-2.5/3 tahun. Di usia ini anak bisa menyimpan hingga 6000 kata perharinya. Maka, prioritas utamanya bagi Bunda adalah memperbaiki bacaan Alquran. Ketika kita tanamkan ayat-ayat Quran berapa banyak ayat yang tertanam dalam subconsciousnya (alam bawah sadar). Khatamkanlah Alquran banyak-banyak dalam telinganya. Penelitian menjelaskan ingatan ini bisa bertahan hingga 10 tahun. 

Di usia ini juga sebisa mungkin pertahankan menggendong anak dalam keadaan berwudhu. Wudhu adalah kondisi suci. Kalau ingat cerita Nabi Yusuf as ketika dia dalam kondisi terdesak digoda oleh wanita lalu ia menoleh ke dinding, maka wajah siapa yang kemudian terbayang? Ya, wajah ayahnya. 

Ayah dan Bunda sering-seringlah ajak anak berkomunikasi. Jangan kebanyakan diem, karena anak butuh banyak kosakata. Bicaralah dengan bahasa yang baik dan benar, bukan "atit, "mamam", piyut". Misal: "Adik, mengapa menangis?" Orang lain bilang, anak kecil kok diajak bicara sesuai EYD gitu. Nggak apa-apa. Kalau Allah saja memberikan yang terbaik pada kita, mengapa kita tidak memberikan yang terbaik pada amanah (anak) yang sudah diberikanNya. 

Inilah ibu sebagai mujahidah. Bersungguh-sungguh dalam merawat, mengasuh, dan mendidik anak-anaknya dalam ketaatan pada Allah Swt. 

Pengasuhan usia 7-15 tahun 


Pada anak laki-laki reverse pengasuhan pada ayah. Lihat bagaimana khawatirnya, takutnya, serta bahagianya ayah. Jangan sampai ayah ada secara fisik namun ayah tiada secara batin. Di usia ini anak sedang melihat bagaimana reaksi ayah menghadapi sesuatu. Anak akan mengcopy-paste apa yang ayah lakukan. Berhati-hatilah dengan apa yang ayah pertontonkan pada anaknya , karena nanti kelamaan bisa menjadi perilaku, kemudian menjadi kebiasaan, lalu menjadi akhlak, dan lebih dari 18 tahun menjadi kepribadian. 

Di sekolah juga penting memiliki guru laki-laki, ada 4 guru yang harus ada laki-lakinya, yaitu guru olahraga, guru agama, guru kesenian, dan satu lagi maaf lupa, heuheu ... 

Mengapa penting ada guru laki-laki? Karena di usia ini "full of fathering moment". Setidaknya kalau di rumah kurang fatheringnya jadi agak tertolong ketika di sekolah memiliki guru-guru ini. 

Guru laki-laki pun periksa bagaimana dia bersikap. Ketika anak ikut futsal, kemudian menendang bola tidak masuk dan anak mundur karena sedih, maka tugas guru olahraga di sini bukan sekadar membetulkan teknik. Guru olahraga ini harus mampu melihat kalau anak bermain bola proses apa yang membuat anak jadi dewasa. Dalam hal ini katakan, "keberhasilan itu tak pernah datang dalam sekali coba, maka terus lakukan, terus berusaha." 

Kalau anak perempuan di usia ini dia mengcopas bagaimana ayah memperlakukan ibunya. Kalau ayahnya baik, bertanggung jawab, insya Allah tidak ada masalah dalam rumah tangganya ke depan. Bilang pada suami ajarkan kelaki-lakian, bagaimana khawatir, takut, dan bahagianya ayah. 

Anak perempuan harus diakrabkan pada 4 keterampilan yang ada di 4 perempuan hebat, yakni: Khadijah binti Khuwailid, Asiyah (istri Firaun), Fatimah binti Muhammad SAW, dan Maryam binti Imran. 

Maryam binti Imran : Ajarkan anak agar kelak mengerti bagaimana ia menghebatkan anaknya. Kalau pagi-pagi tanya, " Adek sudah siap belum untuk sekolah? Bentonya mana? Botol minumnya mana? Tasnya mana?" 

Fatimah binti Muhammad SAW: Ajarkan anak agar kelak ia mengerti bagaimana menghebatkan orangtuanya. Pada usia SD biarkan anak-anak yang mencuci piring supaya motorik halusnya terlatih agar kemudian kelak ketika ayah bundanya sakit tangan anak luwes, bisa mijit bundanya. Ajari anak menyiram bunga, ajak anak memberi makan kucing sambil dielus-elus. 

Khadijah binti Khuwailid: Ajarkan anak agar kelak ia tahu bagaimana menghebatkan suaminya. Ayah Irwan menuturkan kalau di sekolahnya anak laki-laki dan perempuan masuknya beda. Yang laki masuk lebih dulu memeriksa pagar, setelah itu anak perempuan baru datang. Yang anak laki-laki bilang, "Wahai anak perempuan, aku dan teman-teman sudah memeriksa pagar, insya Allah kalian aman." Yang anak perempuan menjawab, "Terima kasih rijalku". Perempuan diajarkan untuk menghormati laki-laki. Kalau kecilnya terlatih, kelak ketika menjadi istri pun insya Allah patuh pada suami. Meski penghasilan istri 30 juta dan suami 10 juta, kalau punya jiwa menghormati maka istri pun akan menurut ketika diminta katakanlah membuat teh dan bukan menjawab yang menunjukkan dirinya juga sibuk dengan pekerjaanya. 

Asiyah (istri Firaun): Ajarkan anak agar kelak ia tahu bagaimana menghebatkan orang lain. Bukan jadi follower tapi jadi leader. Ketika ada yg ngajak nonton "yuk!", "nggak!" Bisa mengatakan tidak untuk sesuatu yang tidak baik. Hal ini tidak instan setidaknya butuh waktu 7 tahun untuk menerapkan ilmu ini.

Loving; Cintai Diri Sendiri, Cintai Ibunya Anak-Anak 


Hutang pengasuhan --> deposit 0-15/18tahun.
Jadi begini, usia 0-15 tahun anak butuh cinta yang banyak, ketika ia tidak mendapati ini di usianya, artinya ia memiliki hutang pengasuhan dari orangtuanya. Ciri anak yang memiliki hutang pengasuhan adalah anak tumbuh sulit peduli pada orang lain, termasuk sulit mengatakan terima kasih. Itulah sebabnya jangan main-main dengan anak usia 0-15 tahun. Contoh lain, ada istri sudah nyiapin makanan dengan beragam makanan, komplit banget, sampai itu makan habis suami diam saja, setelah itu istri bilang, "Bang kamu gak mau bilang apa gitu ke aku?" Qiqiqi... Nah ini jangan sampai kita memiliki hutang pengasukan lagi ke anak ya. 

Coaching; Amanah Pertumbuhan 

Ini adalah amanah untuk pertumbuhannya. Jangan sampai ayah bunda membawa harta haram ke rumah, termasuk jaga makanan yang masuk, pastikan itu halal.

Demikianlah kajian kali ini. Jadi intinya didiklah anak-anak kita dengan pola pendidikan dan pengasuhan yang tepat. Mohon maaf untuk yang tidak tersampaikan, wassalamualaikum wr wb.

18 comments:

  1. Wah keren ya mak sebulan sekali ngadain acara parentingnya....
    Tentang deposit pengasuhan 0-15 th gmn jdinya ya mak klo sejak kecil ank sdh di pondokkan???
    Bnyk fenomena ky gini e mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mondok gakpapa mak. Maksudnya hutang pengasuhan itu kalau dia tidak mendapatkan pola pengasuhan yang tepat di usia 0-15 tahun. Kalau di pesantren ia dapatkan itu insya Allah membantu mak...

      Delete
  2. Keren, ibu itu besar sekali pengaruhnya dalam membangun peradaban keluarga. Itu kenapa sebagai sekolah pertama anak, ibu harus terus belajar

    ReplyDelete
  3. Masya Allah..lengkap banget ini. Terpisah pula contohnya antara pengasuhan untuk anak laki-laki dan perempuan. Dan memang masing-masing punya cara dan tingkat kesulitan berbeda. Tinggal kita orang tuanya yang terus belajar dan menambah ilmu diantaranya ikut kajian bertema pengasuhan. Syukur-syukur yang ada potlucknya sekalian...Alhamdulillah :)

    ReplyDelete
  4. Mbaaa,, makasih ya udah share. Aku seneng bacanya. Mdh2an bisa melakukan smua poin2nya.. amiin

    ReplyDelete
  5. Ulasannya komplit ya, beda gender dan beda usia gaya pengasuhannya juga berbeda.

    ReplyDelete
  6. Wa'alaikumussalam...
    Alhamdulillah, senang sekali membaca bahasan ini, berasa diingatkan kembali.
    Terima kasih banyak Mbak.

    ReplyDelete
  7. sangat detail sekali penjelasannya, mbak. aku baru tau anak umuran batita bisa menyerap kata sampai 6.000 kata perhari. pantas aja ya mereka cepat sekali menangkap dan menghapal apa yang kita bicarakan

    ReplyDelete
  8. Wah Masyaallah, lagi jaman ya sekarang kajian parenting kaya gini. Emang penting banget sih untuk para ortu nih, soalnya jadi ortu kan emang gak ada sekolah yes, kajian begini penting banget. Saya suka sama tulisannya bun, runut dan gampang mengerti. Makasih bun sharingnya.

    ReplyDelete
  9. Setuju bun ajarilah anakmu dengan kalimat thayibah kayaknya ini kayak bahasan pola pengasuhan anak ala ali bin abi thalib bun. Semoga yah anak kita menjadi anak sholeh sholehah aamiin

    ReplyDelete
  10. MasyaAllah, bertambah lagi nih ilmu parentingnya. Semakin suka aku belajar parenting. Ini soal anak-anak kita, titipanNya. Mereka yang di akherat kelak kita dimintai pertanggungjawaban atasnya. Semakin belajar, semakin dipraktekkan, parenting ini semakin terasa menyenangkan.

    ReplyDelete
  11. Masya Allah ilmunya daging banget bunda. Makasih banyak bund, Bismillah coba menerapkan di rumah.

    ReplyDelete
  12. Makasih Mbak untuk sharing bergizinya. Sangat bermanfaat.

    ReplyDelete
  13. Alhamdulillah jadi bertambah nih ilmu parentingnya. Makasih ya mbak sharingnya. Kalau ikutan langsung pasti lebih seru ya.

    ReplyDelete
  14. Makasih mbak, jadi nambah ilmu parentingnya. Semoga bisa menerapkan dengan baik agar tidak ada hutang pengasuham

    ReplyDelete
  15. mendidik anak mendidik peradaban. betul banget. jadi ingat waktu di al itqon bahas parenting. terima kasih sharingnya. lengkap banget

    ReplyDelete
  16. Ilmu parenting yang bagus banget ini, sekaligus nampol ke aku tuh.

    Kok tiba-tiba ngerasa bersalah sama anak-anakku yah? Hiks.

    ReplyDelete
  17. Ringkasannya aja udah keren banget. Pasti ceramah aslinya lebih keren nih. Sangat bermanfaat nih ceramahnya �� thx banget udah sharing ��

    ReplyDelete