Wednesday, 6 February 2019

Mendidik Anak di Era Milenial; Disarikan dari Kajian Bersama Ust. Bendri Jaisyurrahman

Bagaimana menjadi orangtua zaman now


Alhamdulillah wa syukurillah, kamis (24/01) lalu saya bersama para orang tua murid Sekolah Citra Alam  Ciganjur berkesempatan menghadiri kajian seputar parenting bersama Ust. Bendri Jaisyurrahman. 

Acara yang dimulai pukul 09.00 pagi ini mengangkat tema "Mendidik Anak di Era Milenial." Meski cuaca sedikit mendung dan sempat dihiasi rintik hujan namun tak menyurutkan langkah para jamaah untuk menghadiri kajian. Seperti halnya saya yang datang tak lama setelah dilakukan pembukaan oleh MC dan doa oleh ibu Roisantunnisak selaku ketua Yayasan Sekolah Citra Alam. 

Di era yang semakin maju ini, banyak sekali tantangan yang dihadapi baik oleh anak maupun orang tua. Nah oleh karenanya penting bagi kita terus menimba ilmu seputar parenting, karena sesuai sabda Rasululloh SAW: 
"Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian". 
Dalam kesempatan ini Ust. Bendri menuturkan tidak sedikit anak yang mulai menjaga jarak dari orang tua. Meski rumahnya sudah nyaman, mewah, banyak hiasan, tanaman, namun sayangnya anak justru tak betah di rumah. Kalaupun betah cenderung menghindar dari orangtua, hanya spot tertentu yang disukainya yaitu (((kamar))). Nah inilah, ketika mulai memasuki rimba alam raya dengan segala macam godaan nafsu syahwat dan duniawi di masanya yang merusak moral seperti: peredaran narkoba juga seks bebas yang semuanya itu masuk melalui sosial media. Sosial media??? Kok bisa?

Ust. Bendri memaparkan bagaimana cara kerja pelaku melalui media sosial mengintai para calon korban yang kebanyakan adalah usia remaja. Kalau di luar negeri para pelaku kejahatan terhadap anak dan remaja, mereka justru diwajibkan mengikuti workshop parenting selama minimal 3 hari. Agar apa? Agar mereka mengerti bagaimana menaklukan korban. Kalau dalam istilah hewan peliharaan disebut grooming, nah ini sama seperti itu, bagaimana menaklukan anak agar jinak dan menurut seperti hewan peliharaan. Mereka masuk ke media sosial dengan memasukkan hashtag. Apa hashtagnya? #galau, #kzl, #gj, #bete, dan semacamnya.

Mulailah si pelaku membuat akun palsu yang disukai anak muda, yaitu fun, asik, tapi baik. Kalau targetnya anak perempuan, maka mereka membuat akun palsu dengan profil picture cowok ganteng, status quote, motivasi, hadist, seolah ingin mengesankan tampang Korea hati Mekkah. Ketika sudah dirasa cukup dengan postingan yang ada, maka si laki-laki mulai aksi request pertemanan yang menjadi pintu masuk segala modusnya. Kira-kira kalau melihat feed seperti itu akan ditolak tidak ya? Rasa-rasanya kecil kemungkinan menolaknya. Dan saat sewaktu-waktu si calon korban update status, "#kzl, #galau, dan sebagainya" mulailah si pelaku merespon, "Innallaha ma'ashobirin". Berlanjutlah menjadi sebuah komunikasi yang terjalin secara intens.

Begitu si calon korban sudah masuk perangkap maka mulailah si pelaku menjalankan segala aksinya. Karena salah satu buah pengasuhan adalah trust yang merupakan bagian dari safe, secure, and trust. Dan ciri sebuah trust/rasa percaya adalah curhat. Mengapa ini bisa terjadi? Ya, ini semua bermula dari ketidakmampuan bagaimana menjadi orangtua di era milenial. 

Generasi Milenial

Generasi milenial menurut para ahli merupakan mereka yang lahir pada awal tahun 1980an dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahirannya. Generasi ini identik dengan internet bahkan saking akrabnya, internet bukan lagi menjadi gaya hidup melainkan bagian dari hidup. 

Orangtua zaman now kadang menjadikan gawai sebagai penyelamat sekaligus perusak, apa pasal? Kalau orangtua zaman dulu meski tak paham ilmu parenting namun dengan segala keterbatasan yang ada bila mengetahui anaknya menangis, respon utamanya adalah menggendong, memeluk, timang-timang, hingga bermain cilukba. Meski tangisan tidak serta-merta terhenti, namun anak merasa nyaman, bonding ibu dan anak pun semakin erat dan kuat.

Beda dengan orangtua zaman now kebanyakan, yang biasanya mengandalkan gawai untuk mengalihkan tangisan serta kebosanan anak. Akhirnya lama-lama anak memahami bahwa ketika aku sedih ada handphone yang menemani, ketika aku menangis ada upin-ipin yang menghiburku, ketika aku bosan ada games di tab yang menghalau rasa bosanku. 

Hingga kemudian banyak orangtua yang kemudian stres ketika anaknya sudah besar, karena apa? Karena saat anaknya masih kecil tidak mau repot, sehingga ada kerepotan yang harus dibayar ketika anaknya sudah besar. Itulah yang menjadi PR orangtua zaman now, "tidak mau repot!" Repot adalah bagian yang tidak mungkin kita hindari. Allah kasih tahu, silakan engkau repot saat anak kecil agar engkau ongkang-ongkang kaki saat anak besar. Atau silakan ongkang-ongkang kaki saat anak masih kecil, maka tanggung repotnya saat anak sudah besar. Repot adalah karunia Allah. Mengasuh anak memang repot maka hadiahnya surga. Maka repotlah seperti hajar yang bolak-balik mencari air.
Seminar parenting mendidik anak

Ciri Generasi Milenial

1. Fasih teknologi

Kita merasa sudah melek teknologi? Jangan GR ya buibu, anak zaman now jauh lebih pintar kalau soal teknologi. Ibu mungkin sudah menerapkan hal ini: cara biar anak tidak nonton film porno maka kita protect dengan password, cara agar kita bisa men-detect perilaku anak selama online maka kita cek histrory. Namun itu semua anak sudah mengerti bagaimana mengatasinya. Maka peran orangtua di era cyber ini bukan mengakal-akali, namun bicara dari hati ke hati dan menjadi teman dekatnya.

2. Jaringan sosial media

Tidak cuma anak bahkan kita yang hidup di era milenial ini umumnya juga banyak memiliki akun sosial media, baik facebook, instagram, twitter, youtube, dan lainnya. Sosial media ini bahayanya adalah memberi efek candu, contohnya saja ketika memposting kemudian mendapat respon berupa like, comment, and share maka otak akan mengeluarkan zat yang namanya dopamine dan endorfin sehingga anak bisa kecanduan untuk memposting, melihat lagi dan lagi. Salah satu yang mungkin bisa kita lakukan untuk meredam efek ini adalah dengan mematikan sumber bunyi dari gawait, baik ringtone maupun notifikasi, karena bunyi-bunyian membuat otak terus bekerja dengan cara merespon.

3. Multitasking

Salah satu ciri generasi milenial adalah terlatih untuk menggerakan seluruh indera untuk melakukan banyak aktivitas. Contohnya saja sambil menyetir mobil seseorang bisa membalas pesan wa dan bisa membetulkan kerah baju secara bersamaan. 

4. Instan

Derasnya informasi membuat kita bergerak lebih cepat dalam melakukan segala hal, maunya cepat dan serba instan! Kalau ada orang melihat poster workshop parenting mendidik anak di era milenial, agaknya akan lebih laku keras ketika judulnya berupa "Ubah anak jadi baik dan penurut dalam sekejap." 

Waspadalah Perilaku  Negatif Generasi Cyber

1. Asosial

Coba dicek yuk, kenal nggak kira-kira anak-anak bahkan kita sendiri dengan para tetangga? Gadget nyatanya berperan mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Ketika kita tengah berkumpul bersama keluarga di sebuah tempat makan, ternyata semua asyik dengan gadgetnya. Sungguh disayangkan, padahal bisa menjadi quality time yang baik.

2. Tidak tangguh dalam proses, gampang putus asa

Sebelum ada gadget, orang-orang dulu terbiasa melakukan sesuatu step by step, sabar melalui setiap prosesnya. Anak zaman now terlalu mengandalkan gadget, banyak video-video tutorial, kemudahan pesan-antar secara online, sehingga ketika gadget off mereka bingung, tidak tahu harus apa, problem -solvingnya rendah. 

3. Konsumtif

Yang paling kentara adalah untuk keperluan pulsa dan kuota. Intensitas internetan, chattingan, hingga streaming menyita budget financial tersendiri. Tidak hanya itu maraknya online shop hingga kemudahan pesan-antar membuat orang beralih dari sebuah kerepotan menjadi kemudahan tiada tara. 

4. Terburu-buru dan tidak teliti

"Pernikahan tidak suka, cerai?" 
Padahal kalau kita berkaca dari kisah Nabi Nuh as yang diberi istri kafir, serta Asiyah dengan suaminya Firaun, mungkin mereka lebih kuat alasan untuk bercerai. Tapi nyatanya tidak. Mereka tidak meminta cerai dari pasangannya. Bersabar dan berdoa.

5. Techno Junkies

Bangun tidur cek handphone, tidak lupa update status. Habis makan, update status. Sebentar-sebentar mengecek handphone, hidupnya lekat dengan gadget.

6. Ikut-ikutan dan mudah dipengaruhi.

Hiks, kalau melihat bagian profesi saya sebagai blogger dan influencer kayanya ini benar adanya. Saya memang kerap melakukan review baik penginapan, skincare, fashion, dan lainnya, untuk apa? Agar orang bisa tahu bagaimana keadaan sesungguhnya. Namun saya berusaha dan memohon pada Allah Swt agar apa yang saya sampaikan adalah kebaikan bahkan syukur-syukur juga bisa mengajak melakukan kebaikan.

Anak Tangguh adalah Tanggung Jawab Orangtua 

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. QS. 4:9
Anak-anak yang lemah adalah salah satu PR orang tua. Oleh karena itu kita harus mendidik anak yang patuh. 3 indikator anak patuh terhadap orangtua adalah:

Tangguh melewati ujian kesulitan

Cerdas melewati kesulitan. Hidup di rumah ber-AC senang namun camping banyak nyamuk juga bisa bersabar. 

Tangguh melewati ujian syahwat

Tidak mudah tergoda, berani mengatakan tidak. Berani mengatakan tidak adalah setengah dari potensi kebaikan. Karena tauhid bermula dari La Ilaha Illallah. Bukan sekadar taat tapi berani mengatakan tidak. Tidak cukup anak kita dibilang soleh karena rajin solat tapi diajak merokok tak bisa menolak

Tangguh melewati ujian marah.

Tidak mudah emosi, tidak dendam, tidak sebentar-sebentar lempar piring, tidak ejek-ejekan. Ini semua bemula dari kemampuan mengendalikan emosi. Belajarlah dari kisah Nabi Yusuf as.

Bermula dari iman (14:24) 

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. 
Dahulukan iman sebelum mempelajari ilmu. Iman pada setiap manusia sudah tertanam, siapa yang menanam? Ialah Allah Swt. Maka tugas kita para orangtua adalah menumbuhkan iman. Sebelum ajak anak menghapal quran, ajari anak tentang iman. Buah dari iman adalah akhlak. Mengapa harus berbuat baik kepada orangtua? Bagaimanapun asas berbuat baik pada orangtua adalah wajib. Orangtua berbuat baik anak harus baik, orangtua berlaku kurang baik anak tetap harus baik pada orangtua. Karena itulah iman. Dan Quran adalah pupuk bagi iman, ketika iman sudah ditumbuhkan. 

Jundub bin Junadah –radhiyallahu ‘anhu– berkata, “Kami telah bersama Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika kami masih sangat muda. Kami mempelajari iman sebelum belajar al-Quran, kemudian barulah kami mempelajari al-Quran hingga bertambahlah keimanan kami karenanya.” (HR. Ibn Majah dan disahihkan oleh al-Albani)


Menguatkan ikatan hati

Amalan badan tidak akan diterima tanpa perantara amalan hati. Karena hati adalah raja, sedangkan anggota badan ibarat prajuritnya. Bila Sang Raja buruk, maka akan buruk pula seluruh prajuritnya. ” (Majmu’ Al Fatawa, 11/208).

Kalau ingin anak menurut dan baik hati, taklukan hatinya. Jangan banyak debat, ngomel, adu argumen. Yang membuat anak tumbuh adalah cukup airmata dan diamnya ibu. Ikat hati sebelum kasih tau dan kasih tau dulu sebelum kasih tugas. Maka ketika anak curhat sediakan hati dan telinga, bukan sediakan ayat. 

Sosok ayah sebagai penyelamat

Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, Abusy Syekh meriwayatkan dari Muhammad bin Sirin radhiallahu anhu pada firmanNya: {لَوْلا أَنْ رَأى بُرْهَانَ رَبِّهِ } berkata: Ya’qub alaihis salam terlihat sedang menggigit kedua jarinya sambil berkata: Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim Khalilur Rahman (Kekasih Allah yang Maha Rahman), namamu tercatat di antara para Nabi, sementara kamu sekarang melakukan perbuatan orang-orang bodoh!”

Bangunlah keakraban anak dan orangtua termasuk dengan ayahnya. Buat agar anak tidak lagi menyimpan rahasia kepada orang tuanya. Bersyukurlah ketika anak ingin bercerita pada orangtuanya. dan waspadalah ketika anak sudah mem-protect handphone, mengunci lemari, apalagi sampai berkata "That's my privacy!" atau semacamnya. Bisa jadi anak tidak memiliki trust atau rasa nyaman dengan orangtua. Nikmatilah setiap hari dengan cerita-ceritanya. 
(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya:
“Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan, kulihat semuanya sujud kepadaku”. 


Tugas orangtua di era cyber:

  1. Menjebol privasi anak, berbagilah cerita dengannya untuk meancing anak juga bercerita serta hindari banyak bertanya.
  2. Kuasai skill membuat anak rindu, bisa memasak, memijat, dan mendengar. Ini bisa rekomendasi para ibu bagaimana membanun keakraban dengan anak.
  3. Berikan hiburan alternatif sebagai bentuk menaklukan rasa bosan bukan dengan diberikan gadget namun manfaatkan apa yang ada untuk membangun kreatifitasnya. 
  4. Sesekali anak diajak kebersamaan yang bermakna untuk melawan gadget. Bagi para ayah bangun skill menghibur, bermain, dan berpetualang
  5. Menyibukkan anak dalam segudang aktivitas. Latih anak memiliki daily rundown.
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. QS. Al Hasyr:18

Managemen Gadget dalam Rumah

  • Waktu. Sepakati bersama waktu yang terlarang.
  • Durasi. Pada anak usia 0-2 tahun no gadget at all, anak usia 2-4 tahun maksimal 30 menit, anak usia 4-7 tahun maksimal 1 jam, dan puncaknya pada orang dewasa hanya 2 jam perharinya.
  • Isi. Banhun kesepakatan, misal hanya 1 sosial messenger yaitu whatsapp maka line uninstall, sosial media 2 facebook dan instagram maka twitter uninstall.
  • Lokasi. Sepakati lokasi yang tidak boleh menggunakan gadget, misal di kamar tidur, kamar mandi, dan meja makan. 
  • Situasi. Hindari pegang gadget saat mengaji, sekolah, menyetir, bertamu, termasuk menjadi tuan rumah.
Nah demikianlah, kita orangtua zaman now memang perlu belajar bagaimana mendidik anak di era milenial, di mana arus informasi begitu deras baik yang bermanfaat maupun mudharat. Semoga Allah Swt senantiasa menjaga iman dan takwa kita serta anak keturunan, istiqomah beribadah kepadaNya, serta diteguhkan iman islam kita semua. Aamiin.

Wallahu'alam bishawab.



18 comments:

  1. Senang baca artikel ini..lengkap sekali.
    Dulu ngikuti Ustad Bendri yang memang fokus ke parenting dari sisi Ayah di Majalah Ummi.
    Sayang dah enggak terbit lagi.
    Memang sulit menjadi ortu di era milenial ini. Semoga kita dan keluarga senantiasa diteguhkan Iman dan Islamnya. Aamiin

    ReplyDelete
  2. Menjadi ibupun harus mendidik sesuai zaman anaknya, kalau tidak kita seperti katak dalam tempurung ya mbak

    ReplyDelete
  3. Wah masyaAllah saya berasa diingatkan lagi untuk menjaga & terus berbenah, mengingat Allah telah titipkan 2 buah hati & gak boleh disia-siakan. Selalu suka dgn materi & gaya penyampaian ust.Bendri, makasih sharingnya mbak

    ReplyDelete
  4. Susahnya jaman sekarang untuk sekedar mengalihkan perhatian anak agar tidak ke gadget terus. Susah payah berupaya mengajak si kecil bersosialisi di luar, eehh teman-temannya banyak yang bawa hape. malah beberapa ada yang sudah dibelikan hape sendiri. Nongkrongnya di tetangga yang punya akses free wifi unlimited. duuuh
    Sepertinya saya harus belajar lebih konsisten lagi untuk menerapkan managemen gadget seperti yang mbak tulis. Terimakasih telah ditulari ilmunya daru ustad bendri, mbak

    ReplyDelete
  5. MasyaAllah ilmu parentingnya lengkap dan jelas banget bun. Betul yah banyak sekali orang tua jaman sekarang yang tak mau repot, padahal coba liat kalo sudah besar si anak. Kebanyakan mereka justru balik merepotkan kita. Naudzubillah. Semoga kita senantiasa jadi ortu yang istiqomah menjalankann segala syariat sebagai ortu sesuai tuntunan yah bun aamiin

    ReplyDelete
  6. alhadmulillah bisa baca artikel ini, lengkap dan berwawasan sekali. semoga nnati kalo sudah jadi orang tua. bisa mendidik anak sesuai dengan zamannya sehingga terhindar dari pengaruh negatif teknologi.

    ReplyDelete
  7. Seru nih kalau bermain sama anak, kadang mereka lupa bahwa pada jamannya anak-anak butuh banget aktifitas fisik. Dan selain butuh mereka itu suka ya mbak... Noce info, paling suka peran sng ayah yang bermain, berpetualang, dan menghibur, hihihi...

    ReplyDelete
  8. MasyaAllah, kajian yang sangat ndaging. Aku adalah salah satu orangtua yang pernah 'jahat' pada anak dengan memberikan ponsel saat aku kelelahan mengurus kantor. Butuh waktu memang untuk membuat kertas, pensil warna, krayon, penggaris, gunting, bola, dan jalan-jalan di alam terbuka, sebagai pengganti gadget. Alhamdulillah, sekarang rumahku sangat meriah dengan tempelan macam-macam di dindingnya. Tapi aku memang nggak 100% melepaskan gadget dari mereka. Sulung sangat antusias terhadap dunia satwa. Hapal banyak sekali nama-nama satwa yang aku sendiri nggak pernah ngerti. Media sosial tetap menawarkan hal positif dengan catatan orangtua tetap mendampingi. Jazakillah ulasannya, Mbak.

    ReplyDelete
  9. Susah juga menjauhkan anak2 dari gawai.Pernah, anak-anakku protes mengapa mereka tidak punya gawai sementara teman-teman dan sepupu mereka punya gawai pribadi padahal mereka seumuran. Duh...

    ReplyDelete
  10. Lengkap banget mbak penjabarannya suka bacanya, iya ya, tantangan oramg tua jaman now sangat besar. Saya mulai berasa nih punya anak mulai tumbuh remaja, berusaha menjadi sahabat baginya.

    ReplyDelete
  11. Walaupun empat dari lima anak-anak saya sudah dewasa tetapi saya masih punya satu putri yang masih remaja. Terima kasih sudah membagikan tulisan yang insya Allah sangat bermanfaat ini. Jangan lelah membagi ilmunya Mbak, masih banyak saudara-saudara kita yang perlu diedukasi.

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah.... tulisannya bermanfaat banget Mak, kadang anak saya suka protes dibolehkan main gadget cuma hari Sabtu dan hanya 1jam, ujung-ujungnya main hp di rumah tetangga sebelah.

    ReplyDelete
  13. memang ya Mak,di era milenial tantangan mendidik anak sungguh luar biasa karena banyaknya pengaruh dari luar,gadged misalnya. Sayang sekali jika orang tua tidak mau tahu dan malah menggunakan metode lama untuk mendidik anaknya.

    ReplyDelete
  14. Lengkap banget, nggak terasa ternyata panjang ya artikelnya...karena asik nulisnya, berganti-ganti font dan model tulisan, jadi nggak garing. Menarik diikuti sampai akhir

    ReplyDelete
  15. Wah, ust Bendri ini salah satu rujukan saya dalam bidang Islamic Parenting. Salah satu bahasan beliau yg kami terapkan adalah tentang Ayah Pengembara. Pas Karena kami sedang LDR-an.

    Senangnya bisa bertatap muka langsung, ya. Yang dibahas pun yg pastinya sedang kita butuhkan.
    Alhamdulillah, kami baru membelikan ponsel setelah kakak kelas 6, setelah ia lulus sebagai predator buku, setelah ngajinya lancar. Adik pun begitu, no gadget dari 0-2 th, sekarang2 ini baru kenal.
    PR memang akan terus berjalan. Tantangan ortu zaman now ya. Termasuk menjadi Emak blogger, emang butuh siasat khusus agar pegang gawainya di waktu yg Pas. Makasih sharingnya :)

    ReplyDelete
  16. Adem baca artikel mb Dwi Arum. Rinci bnget dan berdaging juga kekinian sangat terkait dgn kondisi skrg. Mksh ya mb ulasannya...

    ReplyDelete
  17. Kajian penuh manfaat, ternyata kita juga harus terus belajar dan menahan diri agar dapat mendidik anak jadi sholehah di era ini.

    ReplyDelete