Ketika Penulis Harus Jadi Pembicara

Selasa, Desember 18, 2018

seluk beluk talkshow

Penulis dan pembicara itu ibarat dua sisi mata uang, tak bisa dipisahkan. Orang yang memiliki keterampilan menulis sangat baik belum tentu kemampuan public speaking-nya juga baik, demikian sebaliknya. Bagi seorang penulis, menjadi pembicara sebab kegiatan menulisnya merupakan sebuah konsekuensi. 

Sekarang pertanyaan saya adalah, apakah kalian seorang penulis? Jika ya, jujur deh, pasti pernah kan satu atau dua kali menjadi pembicara sebab profesi menulis kalian? Atau jika jawaban kalian belum pernah menjadi pembicara, sabar saja, mungkin sebentar lagi hal itu akan menghampiri kalian, insya Allah. 

Orang yang mengenal saya saat ini tak percaya kalau saya bisa serius, apalagi dulunya pendiam dan pemalu (ini sih testimoni salah satu ibu di sekolahan). Hihi, pada orang tertentu saya memang bisa menjadi sangat banyak bicara. Begitu juga orang yang kenal saya dulu, banyak yang menyatakan kini saya berubah. 

Begitulah, dulu memang saya introvert, pemalu, pendiam, khawatir dengan pandangan orang. Sepanjang masa sekolah, di tiap jenjangnya saya paling hanya memiliki 1-2 teman dekat yang alhamdulillah masih berhubungan baik hingga sekarang selebihnya biasa saja. Bukan, bukan karena saya tidak mau bergaul dengan yang lain, saya justru (dulu) terlalu khawatir mereka tidak mau bergaul dengan saya. 

Kini, sejak menikah dan aktif menulis saya merasa lebih terbuka. Suami banyak memberi pandangan-pandangan positif terkait kehidupan, bahwa sebetulnya apa yang saya khawatirkan hanyalah ada dipikiran saja. Makanya saya setuju kalau menulis bisa menjadi terapi bagi kesehatan jiwa. Karena pada dasarnya kan di dunia ini semua terdiri dari energi termasuk emosi, artinya karena ini sebuah energi maka tak bisa dihilangkan tapi kita bisa mengubah menjadi bentuk energi lainnya. Dan saya memilih salah satunya adalah menulis. 

Kiprah menulis saya sudah memasuki tahun ke-3. Selama ini saya merasa sangat nyaman karena saya tak perlu berhubungan dengan banyak orang. Namun, o'ow Oktober 2017 adalah menjadi tahun pertama saya tampil di depan umum untuk kegiatan menulis bersama teman-teman di Kopi Write Indonesia. Waktu itu acaranya di SMUN 1 Sumedang.
Tips menjadi pembicara
Dalam acara Seminar Kpenulisan untuk Siswa/i SMUN 1 Sumedang

Duuh jangan ditanya gimana groginya, teman-teman KWI pasti tahu banget, saya terlihat sangat ingin cepat-cepat selesai, intonasi suara tidak smooth, bahkan saya terbatuk, padahal sudah minum air yang banyak sebelumnya. Wkwkwk ...

Pengalaman kedua saat di Batam, masih bersama teman-teman Kopi Write Indonesia mengisi workshop sehari jadi buku. Yang ini juga sama padahal jumlahnya tidak begitu banyak dan isinya ibu-ibu semua, semiformal lah, tapi tetap saja masih degup-degup grogi.
menjadi pembicara bagi pemula
Dalam acara Workshop Sehari Jadi Buku bersama IP Batam.

Pengalaman ketiga adalah penampilan solo perdana saya di Masjid Al Baidho, Lubang Buaya. Yang ini merupakan acara bedah buku Dalam Dekapan Mukjizat Alquran, karena tidak ada yang kebetulan sih, saya satu-satunya penulis yang di Jakarta di buku tersebut. Kalau sebelumnya ramai-ramai bersama teman sekarang sendiri. Heuheuuu... Aslinya pengen nolak karena jangankan sendiri, ramai-ramai aja kemarin grogi. Cuma suami terus menguatkan bahwa aku bisa. 
Talkshow buku DDMA
Dalam acara talkshow buku DDMA di Masjid Al Baidho
Alhamdulillah penampilan perdana saya atas karunia Allah berjalan sangat lancar dan hidup. Saya merasa begitu tenang ketika berbicara, intonasi suara saya lebih stabil, bicara pun santai, serta tidak ada batuk-batuk selama berbicara. Allahu Akbar. Acara selesai, saya begitu lega. Nah, kira-kira apa ya yang membuat saya bisa berubah demikian? Lanjut bacanya dulu ya, nanti saya jabarkan. 

Pengalaman keempat ketika tampil di Balairung UI masih acara bedah buku DDMA. Mendengar nama UI seketika saya langsung hubungi panitia untuk tampil berdua dengan penulis lain dari Tangerang, yakni Bunda Fuatuttaqwiyah. Saya merasa perlu tampil berdua karena teteeup masih ada sedikit sisi introvertnya. Beberapa hari sebelumnya saya sudah sering kepoin UIIBF, Universitas Indonesia Islamic Book Fair. Kalau diingat-ingat, ya Allah... Dulu mau masuk UI belum lolos, sekarang justru bisa hadir jadi pembicara. Alhamdulillah yang ini juga berjalan lancar.
Bedah buku uiibf
Masya Allah, bisa 1 poster bareng Ahmad Rifai Rifan dan Tere Liye.
bedah buku uiibf
Alhamdulillah senang bisa menjadi bagian UIIBF 2018.

Pengalaman kelima tidak kalah seru, ketika saya bisa tampil ditemani teh Khadijah (Peggy Melati Sukma) dalam sebuah bedah buku DDMA. Yang ini awalnya grogi sih lama-lama mulai ngeblend karena beliaunya juga merangkul banget. Ini berasa mimpi aja, dulu jadi penontonnya waktu beliau masih hits di acara Gerhana, kemudian jadi pendengarnya ketika beliau berbicara di Proxis dalam acara meet up blogger muslimah, siapa sangka beberapa bulan kemudian bisa tampil duet menjadi pembicara di sebuah talkshow.
(02/18) Dalam acara meet up Blogger Muslimah.
Sangat bersahaja dan ramah
Hijrah Teh Khadijah
(12/18) Sosok teh Khadijah yang begitu inspiratif dan cerdas.
Perjalanan hijrah dan dakwahnya juga mengena di hati.
Sungguh, ini semata-mata karena karunia Allah Swt, seluruh puji-pujian hanya untukNya. Karena bukan saya yang hebat, tapi Dia-lah yang memudahkan segalanya.

Wha jadi panjang, sebetulnya saya hanya ingin bercerita dan berbagi tips bagi kalian (khususnya penulis) yang merasa tak nyaman bila harus berbicara di depan umum. Tips ini saya rangkum dari pengalaman pribadi serta konsultasi dari salah seorang penulis best-seller, sebut saja Ahmad Rifai Rifan #eh... 

1. Solat Istikharah 
Bagi yang muslim sepertinya paham solat istikharah. Kita meminta petunjuk pada Allah apakah acara ini baik kita ambil atau tidak. Nah sambil sebelumnya kita tanyakan ke yang memberi penawaran. Untuk tanggal berapa, bagaimana konsep acaranya, dan lainnya. Lalu kalau ibu-ibu kan bisa kita memberikan pernyataan super, saya tanya suami dulu ya, hihi ... Nah ini juga penting selain minta petunjuk sama Allah jangan lupakan ridho suami dan minta doa orang tua. Dulu saya ingat selepas solat saya aplikasikan ilmu garputala (Ust. Nasrulloh) selepas solat saya baca Alquran dan pas di surat Al-Qasas ayat 86.

Dan kamu (Muhammad) tidak pernah mengharap agar Al Quran diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi penolong bagi orang-orang kafir.
Terus kan saya merasa jleb banget. Nabi Muhammad SAW pun tidak pernah mengharap Alquran diturunkan kepadanya namun Allah yang berkehendak. Jadi merasa terjawab saja,  saya pun terhadap tawaran ini tidak pernah berharap sebelumnya, namun semua atas rencana Allah saya yang dihubungi. Kalau kata suami saya, jangan meragukan kemampuan diri, padahal Allah sudah mempercayai kamu. Niatkan saja untuk berbagi dan menebar manfaat. 

2. Sedekah
Siapa yang menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya. Siapa yang melepaskan kesulitan orang lain maka Allah juga akan melepaskan kesulitannya. 

3. Akrabkan diri dengan moderator
Ketika kalian dihubungi panitia, jangan lupa minta kontak moderatornya. Tanyakan bagaimana konsep acaranya, bila talkshow tak ada salahnya bertanya draft Q&A, beberapa moderator malah ada yang meminta kita membuatnya sendiri, paling kalaupun ada tambahan spontanitas saja saat acara. Dan mengetahui hal ini akan membuat kita lebih matang serta tahu bahasan-bahasan yang perlu disampaikan setiap pertanyaaannya. Ini juga pernah saya tanyakan kepada gurunda, Ahmad Rifai Rifan, dan beliau menjawab "sah-sah saja kok meminta draft Q&A apalagi buat orang-orang yang tak terbiasa dengan spontanitas, biasanya sebelum tampil memang ada briefing juga." Nah jadi jangan malu bertanya, mulai akrabkan diri dengan moderator.

4. Baca dan lihat 
Perbanyak membaca terutama bila bedah buku, pahami isinya mulai dari proses hingga selesai. Dan perbanyak juga melihat video talkshow atau seminar sejenis serta searching juga untuk melihat lokasi dan situasi di sana. 

5. Solat taubat
Jadi begini, apa-apa yang membuat kita sulit bisa jadi karena kesalahan kita sendiri. Nah ada baiknya lakukan solat taubat sebagai bentuk menyingkirkan perisai (dosa), sehingga doa-doa kita lebih mustajab. Namanya ketika kita tampil ya, segala sesuatu bisa saja terjadi, termasuk sesuatu yang membuat kita jadi malu. Yakin saja apa yang terjadi, itulah yang terbaik menurutNya. Buat saya sebagai pembicara ala-ala dan pemula, yah ini perlu banget dilakukan.

6. Solat hajat
Sebelum tampil jangan lupa solat hajat, minta kemudahan sama Allah. Karena nggak ada kekuatan melainkan dariNya. Mohon yang terbaik dan semoga Allah meridhoi langkah kita.

6. Terapi tandatangan
Jadi, beberapa minggu sebelum tampil perdana di Masjid Al Baidho, saya menemukan status mba Nurdiah di facebook yang mampu menganalisis sampah emosi dari tandatangan. Saya inbox beliau, karena antrean analisisnya panjang, saya memutuskan langsung ke coach Sofyan setelah sebelumnya ke Teh Nety. Kemudian dilihatlah sampah emosi tandatangan saya dan saya kemudian disarankan untuk terapi hooponopono dan ganti tandatangan. Soal hooponopono digoogling saja ya atau ikut kelasnya yuk wapri saya #eh, hihii... Jangan bayangkan ganti tandatangan itu rumit karena ini adalah terapi sehingga tandatangan lama tetap terpakai untuk urusan-urusan resmi dan penting, sedangkan untuk terapi kita gunakan tandatangan baru. Beberapa minggu saya jalani hal ini kemudian saya konsultasi dengan sang coach bahwa saya akan tampil, saya ceritakan kalau dulu saya sebelum tampil grogian, dan sebagainya, lalu beliau menyarankan untuk tapping dengan metode SEFT. Baru kali ini saya merasa ilmu hooponopono dan tapping yang diajari beliau begitu aplikatif. Saya pernah belajar dua hal ini sebelumnya namun semua seperti sekadar teori dan tidak mengena di hati. 

Nah, saya kira itulah hal-hal yang bisa membuat saya nyaman selama berbicara di depan umum. Bagi kalian yang sudah terbiasa anggap saja ini hiburan ya. Dan bagi yang belum merasa nyaman untuk tampil di depan, semoga tips di atas membantu. Saya menuliskan ini sebagai pengingat diri juga, karena jujur sebagai penulis saya sangat nyaman berlama-lama di depan laptop ketimbang ratusan orang. Hihi, namun begitulah hidup kita sesekali perlu keluar dari zona nyaman agar bisa  tumbuh dan berkembang. 

Oya, by the way, apa kalian merasa perlu analisis tandatangan juga? Mengetahui kebocoran emosi (permasalahan) adalah setengah dari solusi, nah bagi yang berminat sila japri ya... Sekali lagi semoga bermanfaat. 💗

You Might Also Like

16 komentar

  1. Makasih tipsnya mbak, btw, jadi penasaran saya sama sampah emisi tandatangan saya, soalnya saya juga termasuk introvert

    BalasHapus
  2. Pasti sedikit berbeda ya, Mbak? Tapi kalau sudah terbiasa menulis biasanya akan mengalir deh kalau waktu bicara, meski perlu naikan jam terbang agar terbiasa. Terus semangat ya, Mbak Dwi...

    BalasHapus
  3. Hebat, sudah berhasil keluar dari "ketakutan" pribadi. Dalam hal berbicara sebenarnya aku lebih nervous sekarang ketimbang dulu. Pengaruh profesi juga, aku dl kerja di bagian manajemen, otomatis banyak ngomong dan bertemu banyak orang. Kalau skrg, mau ke event aja kadang masih keder, wkwk. Btw analisa tanda tangan? Aku agak khawatir kalau harus ganti, hehehe. Tapi penasaran, hahaha. #labil

    BalasHapus
  4. Salut Mbak Dwi...keren ini.
    Berhasil merubah diri jadi percaya diri tampil ..jadi pembicara pula. Masya Allah!
    Baru tahu ada terapi 5anda tangan,...wah ilmu baru nih.

    BalasHapus
  5. Mantap tipsnya, keren euy..
    Bisa satu forum sama penilis2 terkenal

    BalasHapus
  6. Keren mbak Dwi, Alhamdulillah itulah kejutan tak terduga menjadi penulis yaa

    BalasHapus
  7. Mba Dwi.. dirimu super sekali. Makin tinggi jam terbangnya, makin berkibar auranya. Selamat ya.. semoga selalu menjadi terang bagi sekelilingmu.

    BalasHapus
  8. Dulu saat memutuskan untuk fokus menulis, saya kira gak akan ada acara bicara di depan umum. Secara saya juga grogian alias gak bisa ngomong di depan umum.
    Tapi seiring waktu ternyata saya juga dituntut untuk bicara. Sampai sekarang masih grogian sih..hihii..
    Saya jadi penasaran dengan terapi tanda tangan, bisa membantu menghilangkan grogi gak ya?

    BalasHapus
  9. MasyaAllah, saya pun jadi ikit deg deg an loh mbak kalau mau tampil begitu. Padahal dulu background saya ketua osis, asisten manager, dan relation, udah terbiasa tampil... Lama enggak diasah jadi nervous sekarang... Makasih mbak Dwi jadi catatan penting untuk memulai tampil lagi....

    BalasHapus
  10. Waaaww...dari seorang yg introvert jd lncar berkomunikasi di dpn publik. Keren ihh bisa foto samaan Khadijah...toppp

    BalasHapus
  11. Mantep banget Mbak Dwi. 👍😘
    Kebayang bagaimana metamorfosanya, secara kan kita sama2 mantan introvert ya mbakkuh.
    Sukses selalu Mbak Dwi, tipsnya sangat membantu. 😘

    BalasHapus
  12. Wah hebat mba Dwi. Di balik pembawaan mba yang kalem tersimpan banyak hal yg luar biasa termasuk PD tampil di depan umum 😊
    Terima kasih tipsnya, kyanya yg blm pernah saya lakukan adalah hubungi moderator, salat taubat dan terapi tanda tangan. Mungkin bisa dijadikan bahan tulisan ttg terapi tanda tangan 😉

    BalasHapus
  13. Tak q sangka makk mo tampil kmrn segini persiapannya....
    Yang penting kita jadi diri sendiri ya mak
    Smua ni atas kuasaNYA

    BalasHapus
  14. MasyaAllah, ekstra keren Mbak Dwi Arum ini. Aku pernah tandatangannya oleh teman Grapholog, pernah belajar SEFT, kadang suka kadang deg-degan kalau berbicara di depan umum, tapi beneran nggak pernah ingat sholat taubat dan sholat istikharah sebelum acara berlangsung. Jleb banget diingetinnya.

    BalasHapus
  15. Masyaallah pengalaman yang luar biasa ya mbak. Menjadi penulis itu memang harus belajar jadi pembicara juga. Kalaupun belum jadi narasumber minimal jadi berani bertanya saat di forum umum hehehe

    BalasHapus