Sunday, 10 December 2017

Apa Sih Diet Food Combining?


Saya paling suka memanfaatkan me-time dengan menulis. Karena menulis bukan sekadar menggerakkan jemari, tapi ada tanggung jawab pada Sang Pencipta. Semoga apa yang terketik di sini bisa menjadi manfaat bagi banyak orang dan menjadi pemberat timbangan kebaikan Aamiin.
***
Mungkin banyak yang beryanya-tanya apa sih diet Food Combining itu? Diet biar kurus ya? 
Mendengar kata diet, kebanyakan orang langsung berasumsi bahwa itu adalah cara makan untuk menurunkan berat badan. Padahal arti diet itu sendiri sebetulnya adalah pengaturan makan baik jenis, porsi, maupun gizi.

Sebagai contoh, ada orang yang membutuhkan asupan kalori dan protein yang banyak, dalam hal ini bisa kita sebut orang tersebut sedang melakukan diet TKTP (Tinggi Kalori Tinggi Protein). Ada juga orang yang menderita penyakit Diabetes Mellitus sehingga pola makannya disebut diet DM. Demikian juga ada orang yang menganut makan hanya produk nabati atau vegetarian maka pola makannya kita sebut diet vegan. Nah, demikian juga dengan Food Combining tujuannya belum tentu untuk langsing, tapi mereka yang menjalani pola makan ini bisa kita sebut Diet Food Combining atau Diet FC. So, paham ya, diet itu tidak identik untuk langsing atau menurunkan berat bedan, tetapi lebih kepada sebutan untuk sebuah pola makan.

Dulu saat pertama kali mendengar FC, saya sangat penasaran karena dalam FC ini begitu melarang makan produk pati dengan protein hewani secara bersamaan. Alasannya adalah enzim untuk memecah pati tidak bisa bekerja manakala bertemu pepsin si enzim pemecah protein di lambung. Dari situ saya mulai menelusuri banyak referensi baik online maupun offline.
Nah, sekarang apa sih diet Food Combining itu? Food combing adalah pengaturan pola makan yang menekankan pada keserasian menu makan sesuai fungsi alamiah tubuh. Maksudnya? Begini, dalam hal sistem cerna, tubuh kita sudah didesain oleh sang Pencipta dengan segala macam enzim. Enzim-enzim tersebut berbeda fungsinya. Enzim untuk memecah karbohidrat berbeda dengan enzim untuk memecah protein, demikian juga dengan enzim untuk memecah lemak yang berbeda dengan enzim pemecah protein dan karbohidrat. Perbedaan enzim ini memiliki kondisi yang berbeda pula dalam hal cara kerjanya. Tidak hanya itu kerja enzim pun dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti pH, suhu, konsentrasi enzim, dan konsentrasi substrat.
Jadi bisa dipahami ya mengapa kita tidak dianjurkan makan karbohidrat bersamaan dengan protein hewani. Dalam hal pH, enzim amilase dapat bekerja dengan optimal pada kisaran pH 6.8-7. Sementara protein hewani sifatnya asam dan kedatangan protein hewani merangsang produksi asam lambung untuk mengubah pepsinogen menjadi pepsin agar bisa memecah protein. Bisa dibayangkan kan ketika amilase membutuhkan kondisi pH netral untuk memecah karbohidrat sementara justru asam yang keluar, maka aktivitas enzim ini menjadi terganggu. Hal ini juga menjelaskan mengapa kita dianjurkan makan nasi dengan sayur-sayuran segar. Karena sayuran tersebut sifatnya cenderung basa. Dari sini juga bisa kita pahami, agar tidak makan dalam keadaan masih panas, karena suhu yang panas dapat merusak aktivitas enzim. Maka, tunggulah uap panas pada makanan hilang.

Membaca penjelasan di atas, sekarang tentu kita lebih mudah memahami bagaimana harus menyusun keserasian menu pada FC.

Menu Serasi tersebut adalah
Karbohidrat + sayur + protein nabati
Contoh : nasi merah + gado-gado + tahu/tenpe goreng.
Atau
Protein hewani + sayur + protein nabati
Contoh :
Pepes ayam + sepiring lalapan + tumis jamur

Menu tidak serasinya adalah
Karbohidrat + protein hewani
Contoh : Nasi + ayam penyet

Apakah sekadar itu diet FC? Tidak! Sejak bangun tidur pagi hari, perbedaan FC dari diet lainnya adalah soal jeniper (jeruk nipis peras hangat) atau jelemper (jeruk lemon peras) yang juga hangat. Tujuannya apa? Sejak semalaman tubuh kita aktif menyerap makanan. Dan organ hati yang bertugas memilah mana makanan yang baik untuk disimpan dalam tubuh dan mana yang tidak berguna dan harus dibuang. Tugas hati yang cukup berat tersebut kita apresiasi dengan segelas jelemper atau jeniper hangat sebagai tonik untuknya dan membersihkan sisa metabolisme atau lendir yang menempel pada dinding saluran cerna.

Apa sih tujuannya makan kok harus di mix and match begitu? Tentu kita ingin tubuh dalam keadaan seimbang dan berjalan sesuai dengan fungsinya secara benar atau yang kita sebut homeostasis. Saat tubuh dalam keadaan seimbang fungsi dan kerjanya, maka tubuh dapat menjalankan perannya dengan sempurna, menyerap nutrisi secara optimal, meminimalisir penumpukan sisa metabolisme, dan penggunaan energi yang efisien.

Apa rasanya makan dengan menu demikian? Kalau sudah merasakan manfaatnya, maka soal rasa adalah nomor sekian.

Saya pikir demikian dulu ya sekilas tentang FC. Nantikan pembahasan yang lebih detail di post-post selanjutnya.
Salam FC!

9 comments:

  1. Aaaahhh tidak, pepes ayam tanpa nasi hiks.. Hebat orang FC, konsisten

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihiii jangan anggap kami aneh ya mba. Karena cheating dibolehkan kok tapi S&K berlaku. Apakah itu? Nantikan postingan-postingan selanjutnya ya...

      Delete
  2. Kalau saya belum pernah mencoba metode ini bun. Abis saya masih mendahulukan soal rasa ama kebiasaan makan hehehe. Sayanya masih bandel soal makanan hee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gapapa mba, itu pilihan kok :) Saya juga masih belajar. Karena sudah merasakan manfaatnya jadi ketagihan.

      Delete
  3. Ayam penyet tanpa nasi itu beraat...😁

    ReplyDelete
  4. Walah, ayam penyet+nasi=tidak serasi..Ini yang masih tergoda saya..Padahal yang jeniper, sarbu sudah dicoba...
    Mesti rajin baca pencerahan seperti ini biar tambah kuat semangatnya..

    ReplyDelete
  5. Duuh...saya masih suka makan nasi sama daging. Padahal kalau menurut FC, gak baik ya...

    ReplyDelete
  6. Bagaimana dengan 4 sehat 5 sempurna yang dulu kita pahami sebagai menu sehat?
    Belakangan memang banyak aturan diet agar sehat ya?

    ReplyDelete
  7. pernah coba fc tp gagal terus. Gak tahan godaan bebek goreng, sambal plus nasi hangat 😭

    ReplyDelete