Jakarta #MenujuSmartCity; Ini Solusi Cerdasku Atasi Kemacetan

Minggu, November 12, 2017


Macet lagi ...
Macet lagi ...
Gara-gara Si Komo lewat ...
*singing

Eh, jadi inget masa kecil. Ternyata kita sudah familiar dengan istilah macet sejak dulu ya. Sejak  jumlah penduduk belum sebanyak sekarang,   sejak pembangunan infrastruktur tidak semasif saat ini, juga sejak kendaraan tidak sebanyak semut ketika bertemu gula. Hehe ...

Belakangan ini Jakarta lagi enggak asyik banget buat tempat jalan-jalan. Dimana-mana sedang ada proyek pembangunan MRT (Mass Rapid Transit). Tahu kan MRT?Itu lho moda transportasi masal cepat. Efek pengerjaan ini adalah adanya pemangkasan jalur, yang semula 3 jalur karena sedang ada pengerjaan jalan jadi tinggal 1 jalur. Kebayang kan macetnya seperti apa, apalagi di jam-jam sibuk.

Tapi, itu bukan satu-satunya biang keladi kemacetan di Jakarta. Jumlah penduduk yang meningkat, kebutuhan mobilisasi individu yang tinggi, juga pertumbuhan ekonomi yang baik turut menyumbang angka kemacetan di Jakarta khususnya. Pertumbuhan ekonomi ini erat kaitannya dengan peningkatan daya beli masyarakat terhadap kebutuhan primer, sekunder, hingga tersier.

Mobil atau motor sendiri awalnya adalah kebutuhan sekunder. Namun seiring waktu melihat kondisi lingkungan yang tidak memungkinkan untuk naik transportasi umum dan alasan penghematan maka bagi sebagian orang kendaraan bermotor kini berubah menjadi kebutuhan primer.

Dua tahun yang lalu saya pernah mengalami kemacetan parah. Masih ingat betul kejadian di sabtu malam itu. Perjalanan dari bilangan Fatmawati  ke Karang Tengah, Lebak Bulus memakan waktu hingga dua jam. Padahal normalnya hanya 5 menit. Sejak saat itu kami enggan keluar hari sabtu terutama sore hingga malam hari. Entahlah, mungkin karena para pekerja yang liburnya sabtu-minggu, prefer berjalan-jalan di hari sabtu agar minggu bisa istirahat di rumah.

Memperhatikan kondisi lalu-lintas yang makin menggila di Jakarta, rasa-rasanya kalau tidak ada keperluan lebih enak di rumah. Kalaupun saya terpaksa harus keluar rumah, saya usahakan untuk tidak keluar di jam macet. Memang ada waktu-waktu tidak macet di Jakarta? Hmm, yah setidaknya lumayanlah untuk tidak terjebak macet yang parah.

Tips menghindari macet versi saya adalah ...

  • Kalau ada keperluan di pagi hari lebih baik keluar pagi sekalian. Misalkan selepas solat subuh langsung berangkat.
  • Kalau ada keperluan siang-sore hari, berangkatlah di waktu-waktu orang kantor sudah mulai masuk, dan kembalilah sebelum arus pulang kantor datang. Berangkat mulai jam 09.00 dan pulanglah maksimal jam 15.00.
  • Kalau selesai acara malam, pulanglah malam sekalian. Sekitar jam 21.00, ini pun kadang beberapa ruas jalan masih macet.
  • Kalau terpaksa harus berangkat dan pulang di waktu macet, gunakanlah transportasi umum seperti ojek online.
Nah, itulah tips dari saya ketika kamu ingin keluar menyusuri Jakarta. Sebetulnya kalau tidak macet kita bisa lho menjelajah Jakarta dari ujung barat hingga timur, utara hingga selatan, bahkan dalam waktu satu hari. Iya satu hari, karena memang sebenarnya di Jakarta itu kemana-mana dekat apalagi sudah banyak tol dan jalan alternatif.

Aah, seandainya saja Jakarta tidak macet dan tumbuh menjadi kota megapolitan yang memiliki moda transportasi yang aman, nyaman, bersih, dan service excellent bukan tidak mungkin warganya justru lebih memilih naik angkutan umum ketimbang kendaraan pribadi.

Sering kali ketika macet ide liar saya muncul. Kalau di film-film mungkin akan ada satu awan putih cantik di atas kepala saya dengan gambaran kota Jakarta yang hadir seperti cerita skenario saya. Penasaran dengan apa skenario saya untuk Jakarta tercinta?

Jadi begini ...


Seandainya saja tidak ada mobil yang berusia lebih dari 10 tahun berkeliaran di Jakarta mungkin angka kemacetan bisa turun cukup signifikan.
Bagaimana pelaksanaannya??
  • Kita bisa kerahkan petugas lantas untuk konsisten menjaring kendaraan yang berusia lebih dari 10 tahun. Bila terjaring berikan sanksi tilang untuk kemudian diproses di pengadilan untuk penjadwalan pemusnahan mobil.
  • Whuat?? Mobil dimusnahkan begitu saja? Tenang ... Impian saya sih jadi saat membeli mobil kita dapat cash-back 3-5 juta ketika mobil dimusnahkan, atau 1-2 juta untuk motor. Padahal sebetulnya cash-back tersebut sudah dimasukkan dalam daftar harga saat beli kendaraan. Jadi memang perlu ada kerjasama dengan pihak produsen mobil. Setiap pembelian kendaraan sekian juta atau sekian % dimasukkan ke rekening yang berwenang untuk kemudian tiba saatnya pemusnahan bisa diklaim oleh customer.
  • Bila lewat masa pemusnahan, maka cash-back tersebut hangus, demikian pula bila diajukan lebih cepat dari jadwal pemusnahan.
  • Dalam hal ini perlu ada perusahaan khusus yang menangani pemusnahan kendaraan untuk bisa diolah menjadi barang yang lebih berguna. Adakan tender bagi siapa yang bisa mengolah kendaraan menjadi barang lain yang banyak manfaatnya bahkan bisa zero-waste maka perusahaan itulah yang berhak memegang proyek ini.
  • Bagi mereka yang mungkin karena alasan kendaraannya penuh nilai sejarah atau barang antik maka bisa saja tidak dimusnahkan dengan catatan berikan pajak 4-5 kali lipat dan itupun hanya boleh keluar di hari sabtu, minggu, atau hari libur nasional.
  • Hmm, orang jadi mikir-mikir ya mau beli mobil? Nanti perusahaan mobil gak laku dong? Tenang, karena memang sebetulnya mobil adalah kebutuhan sekunder maka hanya yang benar-benar butuh dan mampu yang memilikinya. Saat ini banyak kita jumpai mobil jenis LCGC dibanderol dengan harga mulai dari 100-200jutaan.
    Katakan saja 200juta yang sudah memenuhi standar layak sebuah kendaraan roda empat. Bila mobil tersebut dimusnahkan 10 tahun mendatang, itu artinya pembeli mengeluarkan 20juta/tahun atau 1.6juta perbulan untuk sebuah mobil. Bila harganya dibawah 200juta tentu perhitungan perbulannya lebih murah lagi. Masih cukup rasional bagi sebuah keluarga untuk memiliki mobil, namun cukup membuat sebagian berpikir 2 hingga 3 kali untuk memiliki sebuah kendaraan pribadi.   
    Seandainya saja transportasi umum di Jakarta ramah-penumpang. Mungkin akan banyak warga yang lebih memilih naik kendaraan umum ketimbang kendaraan pribadi.
Bagaimana caranya?
  • Keamanan adalah faktor utama yang membuat masyarakat memutuskan bersedia naik kendaraan umum atau tidak. Maka, yakinkan masyarakat bahwa transportasi umum kita aman dengan cara sediakan petugas keamanan di halte, terminal termasuk di dalam kendaraan tersebut. Katakanlah 1 perugas untuk 3 gerbong kereta atau 1 petugas di bus TransJakarta. 
    Kalau kita lihat di mall-mall besar akan ada petugas yang berjaga di dalam lift. Seperti itulah gambarannya. Atau bila tidak memungkinkan, pasang CCTV atau penyadap suara di dalam kendaraan. Jadi kita bisa tahu siapa penumpang yang naik-turun dan apa yang mereka perbincangkan. Sisi positifnya warga menjadi lebih santun dalam berucap. Nah, kalau di pesawat kita mengenal dengan black box. Tidak hanya itu supir pun harus melalui tahap seleksi dan bersertifikasi, supaya tidak ugal-ugalan dan mengerti etika berkendara yang baik.
  • Setelah dipastikan aman, ternyata warga butuh kenyamanan, terutama bagi wanita, ibu hamil, ibu dengan anak kecil, lansia, dan difabel. Seringkali saya perhatikan kurangnya perhatian untuk kaum difabel, tangga penyeberangan atau tangga menuju halte TransJakarta tidak tersedia jalur difabel. Belum lagi penumpang yang merokok seenaknya, tanpa memperhatikan bahwa ada anak kecil, ibu hamil, dan lansia di dekatnya. Stop merokok di kendaraan umum!
  • Kebersihan juga sebetulnya masuk dalam kenyamanan. Cuma di sini saya membayangkan seandainya di tiap pemberhentian baik itu halte, bus, stasiun, disediakan petugas kebersihan, malah kalau bisa standby di dalam kendaraan, mungkin bus itu tidak sekadar bersih tapi juga wangi.
  • Harapannya setiap angkutan umum memiliki perusahaan penanggung jawab. Misalkan si angkot dikelola oleh perusahaan xyz, kopaja oleh pqr, dan semacamnya. Sehingga apabila ada masalah memudahkan pengaduan dan permintaan akan tanggung-jawabnya juga memiliki keseragaman standarisasi kelayakan suatu transportasi umum. Sang supir bekerja secara profesional dengan gaji yang cukup.
  • Untuk menghindari tarif yang menembak dengan alasan tidak ada kembalian atau semacamnya, maka sistem pembayarannya menggunakan e-money seperti yang sudah berjalan saat ini.
  •  Kalau itu semua berjalan dengan baik, insya Allah Jakarta bebas macet dan kita bisa prediksi waktu tempuh perjalanan kita karena setiap transportasi umum bjsa datang tiap 5-10 menit sekali.

Dukung Virtual office
Sebelumnya sudah tahu kan apa itu Virtual Office? Ya jadi menurut wikipedia, Virtual Office itu adalah sebuah "ruang kerja" yang berlokasi di dunia internet, di mana seorang individu dapat menyelesaikan tugas-tugas yang diperlukan untuk melaksanakan bisnis profesional atau pribadi tanpa memiliki "fisik" lokasi usaha.


Bagaimana penerapannya???
  • Sebetulnya tidak semua pekerjaan mengharuskan pegawainya datang ke kantor. Ada beberapa divisi atau pekerjaan yang memungkinkan tugasnya untuk dikerjakan dari rumah. Pegawai tetap bisa melaksanakan kewajibannya dengan baik dengan pantauan webcam sesuai jam kerja di kantor.
Keuntungan virtual office:
  • Bagi perusahaan
Hemat biaya operasional. Hal ini biasanya sangat dirasakan bagi perusahaan start-up dimana mereka tidak perlu membeli atau menyewa gedung yang besar untuk menampung banyak karyawan. Cukup sewa tempat sesuai kebutuhan di lokasi yang strategis, maka nilai perusahaan pun di mata klien akan naik karena lokasi dan tempat yang prestisius.
  •   Bagi karyawan
Hemat biaya transport dan makan. Misalkan saja seorang pegawai perlu mengeluarkan uang Rp. 30.000/hari untuk transport dan 40.000/hari untuk makan, dengan waktu kerja 5 hari dalam seminggu. Artinya mereka harus merogoh kocek 1.4juta/bulan untuk transportasi dan makan. Bekerja dari rumah juga dapat mengurangi stres karena seorang pegawai tidak perlu mengalami kemacetan di jalan atau pusing mencari parkir. Selain itu, bekerja dari rumah menjadikannya lebih dekat dengan keluarga. Seorang pegawai wanita yang berstatus ibu menyusui dapat dengan mudah memenuhi kebutuhan ASI buah hatinya. Demikian dengan pegawai yang berstatus sebagai seorang bapak. Perhatian sang anak akan tetap terpenuhi karena melihat ayahnya bekerja dari rumah.
  • Bagi Lingkungan
Mengurangi polusi! Ramai kita dengar gerakan peduli lingkungan. Ternyata virtual office pun turut berperan menjaga bumi kita yang mulai panas ini. Dengan bekerja dari rumah, artinya turut meminimalisir jumlah kendaraan yang beredar di jalan. Akibatnya udara Jakarta pun bisa sedikit lebih baik akibat berkurangnya gas buang dari kendaraan bermotor. Tidak hanya itu, virtual office turut menyumbang udara berkualitas yang baik bagi kesehatan. Gas buang dari kendaraan banyak macamnya seperti CO (karbon monoksida), Pb (timbal), CO2 (karbon dioksida), dan sebagainya, dan iti semua tidak baik bagi kesehatan. Semakin sedikit kendaraan yang beredar di jalan, semakin sedikit gas buang kendaraan, semakin ramah udara untuk kesehatan, sehingga kualitas hidup masyarakatnya pun lebih baik.
  •   Bagi Pemerintah
Kemudahan akses bagi pejabat, mobil kesehatan seperti ambulans, juga pemadam kebakaran (damkar), dan polisi. Berkurangnya jumlah kendaraan yang beredar di jalan akan memudahkan mana kala terjadi keadaan yang tidak terduga, seperti ada tamu negara yang lewat, mobil ambulans yang membawa pasien kritis, juga mobil damkar agar lokasi kebakaran bisa cepat padam. Menghemat anggaran negara. Banyak aspek yang bisa dipangkas dari diterapkannya virtual office ini. Mulai dari sekadar biaya cuci piring dan gelas di pantry, pembersih toilet karena tidak banyak pengguna, listrik karena tidak ada AC dan lampu yang perlu dinyalakan hingga menghemat reimburse dari uang tol dan bensin bila ada. 

This is my smart ideas for my smart city. Ada harapan dari saya sebagai warga Ibukota untuk menjadikan Jakarta sebagai kota yang lebih humanis. Setitik ide saya semoga bermanfaat mengurai kemacetan yang ada di Jakarta khususnya dan Indonesia umumnya.

#Menuju100SmartCity
#MenujuSmartCity

You Might Also Like

25 komentar

  1. Balasan
    1. Makasih mba. Mengenai pelaksanaanya tinggal tunggu ya semoga pemerintah berani bertindak. Pengen bangey liat Jakarta kaya kota-kota di negara maju. Jalanan lengang gitu.

      Hapus
  2. Mba... Keren banget isi blognya. Sangat informatif. Gud luck ya utk #menujusmartcity

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mba Dhika. Aamiin, semoga ide kecil ini bisa menginspirasi pemerintah dan membawa perubahan bagi daerah bahkan negara.Terima kasih sudah berkunjung :)

      Hapus
  3. Bekerja dr rumah, jd bs dekat dg keluarga. Ide bagus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, harapan para pekerja yang berstatus sebagai ibu. Sering banget denger keluhan temen2 sulit pumping di kantor, malah ada yg sampe ngumpet2 di kolong meja, kasian hiks2...

      Hapus
  4. macet memang selalu menjadi momok bagi orang yang tinggal di kota besar, semoga jakarta akan lebih baik di tahun-tahun mendatang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Harapan kita semua sebetulnya untuk Indonesia, karena denger-denger temen di daerah kotanya juga akrab sama kemacetan.

      Hapus
  5. keren banget mba kita yang satu ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi, semua orang bisa mencetuskan ide mba. Yang sulit adalah mengeksekusi ide tersebut. Semoga ya bisa terealisasi

      Hapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga ya mba.. Btw, tips yang mana nih? Tips keluar rumah kah untuk menghindari kemacetan? :D

      Hapus
  7. Ide keren mbak.
    Paling suka dengan ide virtual office nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihiii ibu-ibu pada setuju yaa, entah bagaimana kalau yang masih jomblo, qiqiqiqi..

      Hapus
  8. Semoga terlaksana dan lancar

    BalasHapus
  9. Tips anti macetnya bener bangeeet.

    BalasHapus
  10. Bener bun. Kalo mu berangkat jangan pas jam kerja. Soalnya ketika kita telat pergi sedikit ajan di jakarta mah udah mcet bgt ya jdinya ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihii.. iya Bun. Apalagi rumahku dipinggir jalan. Sering banget ngalamin keluar rumah langsung macet.

      Hapus
  11. Keren banget, Mbak. Saya suka semuanya. Mulai penyempaian masalah, pembahasan sampai ide dan infografisnya. Kece

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasiih mba Damar. Ya ampuun terharu dirikuh, blog ini dibaca sama mastah blogger... :*

      Hapus