Sunday, 12 November 2017

Jakarta #MenujuSmartCity; Ini Solusi Cerdasku Atasi Kemacetan


Macet lagi ...
Macet lagi ...
Gara-gara Si Komo lewat ...
*singing

Eh, jadi inget masa kecil. Ternyata kita sudah familiar dengan istilah macet sejak dulu ya. Sejak  jumlah penduduk belum sebanyak sekarang,   sejak pembangunan infrastruktur tidak semasif saat ini, juga sejak kendaraan tidak sebanyak semut ketika bertemu gula. Hehe ...

Belakangan ini Jakarta lagi enggak asyik banget buat tempat jalan-jalan. Dimana-mana sedang ada proyek pembangunan MRT (Mass Rapid Transit). Tahu kan MRT?Itu lho moda transportasi masal cepat. Efek pengerjaan ini adalah adanya pemangkasan jalur, yang semula 3 jalur karena sedang ada pengerjaan jalan jadi tinggal 1 jalur. Kebayang kan macetnya seperti apa, apalagi di jam-jam sibuk.

Tapi, itu bukan satu-satunya biang keladi kemacetan di Jakarta. Jumlah penduduk yang meningkat, kebutuhan mobilisasi individu yang tinggi, juga pertumbuhan ekonomi yang baik turut menyumbang angka kemacetan di Jakarta khususnya. Pertumbuhan ekonomi ini erat kaitannya dengan peningkatan daya beli masyarakat terhadap kebutuhan primer, sekunder, hingga tersier.

Mobil atau motor sendiri awalnya adalah kebutuhan sekunder. Namun seiring waktu melihat kondisi lingkungan yang tidak memungkinkan untuk naik transportasi umum dan alasan penghematan maka bagi sebagian orang kendaraan bermotor kini berubah menjadi kebutuhan primer.

Dua tahun yang lalu saya pernah mengalami kemacetan parah. Masih ingat betul kejadian di sabtu malam itu. Perjalanan dari bilangan Fatmawati  ke Karang Tengah, Lebak Bulus memakan waktu hingga dua jam. Padahal normalnya hanya 5 menit. Sejak saat itu kami enggan keluar hari sabtu terutama sore hingga malam hari. Entahlah, mungkin karena para pekerja yang liburnya sabtu-minggu, prefer berjalan-jalan di hari sabtu agar minggu bisa istirahat di rumah.

Memperhatikan kondisi lalu-lintas yang makin menggila di Jakarta, rasa-rasanya kalau tidak ada keperluan lebih enak di rumah. Kalaupun saya terpaksa harus keluar rumah, saya usahakan untuk tidak keluar di jam macet. Memang ada waktu-waktu tidak macet di Jakarta? Hmm, yah setidaknya lumayanlah untuk tidak terjebak macet yang parah.

Tips menghindari macet versi saya adalah ...

  • Kalau ada keperluan di pagi hari lebih baik keluar pagi sekalian. Misalkan selepas solat subuh langsung berangkat.
  • Kalau ada keperluan siang-sore hari, berangkatlah di waktu-waktu orang kantor sudah mulai masuk, dan kembalilah sebelum arus pulang kantor datang. Berangkat mulai jam 09.00 dan pulanglah maksimal jam 15.00.
  • Kalau selesai acara malam, pulanglah malam sekalian. Sekitar jam 21.00, ini pun kadang beberapa ruas jalan masih macet.
  • Kalau terpaksa harus berangkat dan pulang di waktu macet, gunakanlah transportasi umum seperti ojek online.
Nah, itulah tips dari saya ketika kamu ingin keluar menyusuri Jakarta. Sebetulnya kalau tidak macet kita bisa lho menjelajah Jakarta dari ujung barat hingga timur, utara hingga selatan, bahkan dalam waktu satu hari. Iya satu hari, karena memang sebenarnya di Jakarta itu kemana-mana dekat apalagi sudah banyak tol dan jalan alternatif.

Aah, seandainya saja Jakarta tidak macet dan tumbuh menjadi kota megapolitan yang memiliki moda transportasi yang aman, nyaman, bersih, dan service excellent bukan tidak mungkin warganya justru lebih memilih naik angkutan umum ketimbang kendaraan pribadi.

Sering kali ketika macet ide liar saya muncul. Kalau di film-film mungkin akan ada satu awan putih cantik di atas kepala saya dengan gambaran kota Jakarta yang hadir seperti cerita skenario saya. Penasaran dengan apa skenario saya untuk Jakarta tercinta?

Jadi begini ...


Seandainya saja tidak ada mobil yang berusia lebih dari 10 tahun berkeliaran di Jakarta mungkin angka kemacetan bisa turun cukup signifikan.
Bagaimana pelaksanaannya??
  • Kita bisa kerahkan petugas lantas untuk konsisten menjaring kendaraan yang berusia lebih dari 10 tahun. Bila terjaring berikan sanksi tilang untuk kemudian diproses di pengadilan untuk penjadwalan pemusnahan mobil.
  • Whuat?? Mobil dimusnahkan begitu saja? Tenang ... Impian saya sih jadi saat membeli mobil kita dapat cash-back 3-5 juta ketika mobil dimusnahkan, atau 1-2 juta untuk motor. Padahal sebetulnya cash-back tersebut sudah dimasukkan dalam daftar harga saat beli kendaraan. Jadi memang perlu ada kerjasama dengan pihak produsen mobil. Setiap pembelian kendaraan sekian juta atau sekian % dimasukkan ke rekening yang berwenang untuk kemudian tiba saatnya pemusnahan bisa diklaim oleh customer.
  • Bila lewat masa pemusnahan, maka cash-back tersebut hangus, demikian pula bila diajukan lebih cepat dari jadwal pemusnahan.
  • Dalam hal ini perlu ada perusahaan khusus yang menangani pemusnahan kendaraan untuk bisa diolah menjadi barang yang lebih berguna. Adakan tender bagi siapa yang bisa mengolah kendaraan menjadi barang lain yang banyak manfaatnya bahkan bisa zero-waste maka perusahaan itulah yang berhak memegang proyek ini.
  • Bagi mereka yang mungkin karena alasan kendaraannya penuh nilai sejarah atau barang antik maka bisa saja tidak dimusnahkan dengan catatan berikan pajak 4-5 kali lipat dan itupun hanya boleh keluar di hari sabtu, minggu, atau hari libur nasional.
  • Hmm, orang jadi mikir-mikir ya mau beli mobil? Nanti perusahaan mobil gak laku dong? Tenang, karena memang sebetulnya mobil adalah kebutuhan sekunder maka hanya yang benar-benar butuh dan mampu yang memilikinya. Saat ini banyak kita jumpai mobil jenis LCGC dibanderol dengan harga mulai dari 100-200jutaan.
    Katakan saja 200juta yang sudah memenuhi standar layak sebuah kendaraan roda empat. Bila mobil tersebut dimusnahkan 10 tahun mendatang, itu artinya pembeli mengeluarkan 20juta/tahun atau 1.6juta perbulan untuk sebuah mobil. Bila harganya dibawah 200juta tentu perhitungan perbulannya lebih murah lagi. Masih cukup rasional bagi sebuah keluarga untuk memiliki mobil, namun cukup membuat sebagian berpikir 2 hingga 3 kali untuk memiliki sebuah kendaraan pribadi.   
    Seandainya saja transportasi umum di Jakarta ramah-penumpang. Mungkin akan banyak warga yang lebih memilih naik kendaraan umum ketimbang kendaraan pribadi.
Bagaimana caranya?
  • Keamanan adalah faktor utama yang membuat masyarakat memutuskan bersedia naik kendaraan umum atau tidak. Maka, yakinkan masyarakat bahwa transportasi umum kita aman dengan cara sediakan petugas keamanan di halte, terminal termasuk di dalam kendaraan tersebut. Katakanlah 1 perugas untuk 3 gerbong kereta atau 1 petugas di bus TransJakarta. 
    Kalau kita lihat di mall-mall besar akan ada petugas yang berjaga di dalam lift. Seperti itulah gambarannya. Atau bila tidak memungkinkan, pasang CCTV atau penyadap suara di dalam kendaraan. Jadi kita bisa tahu siapa penumpang yang naik-turun dan apa yang mereka perbincangkan. Sisi positifnya warga menjadi lebih santun dalam berucap. Nah, kalau di pesawat kita mengenal dengan black box. Tidak hanya itu supir pun harus melalui tahap seleksi dan bersertifikasi, supaya tidak ugal-ugalan dan mengerti etika berkendara yang baik.
  • Setelah dipastikan aman, ternyata warga butuh kenyamanan, terutama bagi wanita, ibu hamil, ibu dengan anak kecil, lansia, dan difabel. Seringkali saya perhatikan kurangnya perhatian untuk kaum difabel, tangga penyeberangan atau tangga menuju halte TransJakarta tidak tersedia jalur difabel. Belum lagi penumpang yang merokok seenaknya, tanpa memperhatikan bahwa ada anak kecil, ibu hamil, dan lansia di dekatnya. Stop merokok di kendaraan umum!
  • Kebersihan juga sebetulnya masuk dalam kenyamanan. Cuma di sini saya membayangkan seandainya di tiap pemberhentian baik itu halte, bus, stasiun, disediakan petugas kebersihan, malah kalau bisa standby di dalam kendaraan, mungkin bus itu tidak sekadar bersih tapi juga wangi.
  • Harapannya setiap angkutan umum memiliki perusahaan penanggung jawab. Misalkan si angkot dikelola oleh perusahaan xyz, kopaja oleh pqr, dan semacamnya. Sehingga apabila ada masalah memudahkan pengaduan dan permintaan akan tanggung-jawabnya juga memiliki keseragaman standarisasi kelayakan suatu transportasi umum. Sang supir bekerja secara profesional dengan gaji yang cukup.
  • Untuk menghindari tarif yang menembak dengan alasan tidak ada kembalian atau semacamnya, maka sistem pembayarannya menggunakan e-money seperti yang sudah berjalan saat ini.
  •  Kalau itu semua berjalan dengan baik, insya Allah Jakarta bebas macet dan kita bisa prediksi waktu tempuh perjalanan kita karena setiap transportasi umum bjsa datang tiap 5-10 menit sekali.

Dukung Virtual office
Sebelumnya sudah tahu kan apa itu Virtual Office? Ya jadi menurut wikipedia, Virtual Office itu adalah sebuah "ruang kerja" yang berlokasi di dunia internet, di mana seorang individu dapat menyelesaikan tugas-tugas yang diperlukan untuk melaksanakan bisnis profesional atau pribadi tanpa memiliki "fisik" lokasi usaha.


Bagaimana penerapannya???
  • Sebetulnya tidak semua pekerjaan mengharuskan pegawainya datang ke kantor. Ada beberapa divisi atau pekerjaan yang memungkinkan tugasnya untuk dikerjakan dari rumah. Pegawai tetap bisa melaksanakan kewajibannya dengan baik dengan pantauan webcam sesuai jam kerja di kantor.
Keuntungan virtual office:
  • Bagi perusahaan
Hemat biaya operasional. Hal ini biasanya sangat dirasakan bagi perusahaan start-up dimana mereka tidak perlu membeli atau menyewa gedung yang besar untuk menampung banyak karyawan. Cukup sewa tempat sesuai kebutuhan di lokasi yang strategis, maka nilai perusahaan pun di mata klien akan naik karena lokasi dan tempat yang prestisius.
  •   Bagi karyawan
Hemat biaya transport dan makan. Misalkan saja seorang pegawai perlu mengeluarkan uang Rp. 30.000/hari untuk transport dan 40.000/hari untuk makan, dengan waktu kerja 5 hari dalam seminggu. Artinya mereka harus merogoh kocek 1.4juta/bulan untuk transportasi dan makan. Bekerja dari rumah juga dapat mengurangi stres karena seorang pegawai tidak perlu mengalami kemacetan di jalan atau pusing mencari parkir. Selain itu, bekerja dari rumah menjadikannya lebih dekat dengan keluarga. Seorang pegawai wanita yang berstatus ibu menyusui dapat dengan mudah memenuhi kebutuhan ASI buah hatinya. Demikian dengan pegawai yang berstatus sebagai seorang bapak. Perhatian sang anak akan tetap terpenuhi karena melihat ayahnya bekerja dari rumah.
  • Bagi Lingkungan
Mengurangi polusi! Ramai kita dengar gerakan peduli lingkungan. Ternyata virtual office pun turut berperan menjaga bumi kita yang mulai panas ini. Dengan bekerja dari rumah, artinya turut meminimalisir jumlah kendaraan yang beredar di jalan. Akibatnya udara Jakarta pun bisa sedikit lebih baik akibat berkurangnya gas buang dari kendaraan bermotor. Tidak hanya itu, virtual office turut menyumbang udara berkualitas yang baik bagi kesehatan. Gas buang dari kendaraan banyak macamnya seperti CO (karbon monoksida), Pb (timbal), CO2 (karbon dioksida), dan sebagainya, dan iti semua tidak baik bagi kesehatan. Semakin sedikit kendaraan yang beredar di jalan, semakin sedikit gas buang kendaraan, semakin ramah udara untuk kesehatan, sehingga kualitas hidup masyarakatnya pun lebih baik.
  •   Bagi Pemerintah
Kemudahan akses bagi pejabat, mobil kesehatan seperti ambulans, juga pemadam kebakaran (damkar), dan polisi. Berkurangnya jumlah kendaraan yang beredar di jalan akan memudahkan mana kala terjadi keadaan yang tidak terduga, seperti ada tamu negara yang lewat, mobil ambulans yang membawa pasien kritis, juga mobil damkar agar lokasi kebakaran bisa cepat padam. Menghemat anggaran negara. Banyak aspek yang bisa dipangkas dari diterapkannya virtual office ini. Mulai dari sekadar biaya cuci piring dan gelas di pantry, pembersih toilet karena tidak banyak pengguna, listrik karena tidak ada AC dan lampu yang perlu dinyalakan hingga menghemat reimburse dari uang tol dan bensin bila ada. 

This is my smart ideas for my smart city. Ada harapan dari saya sebagai warga Ibukota untuk menjadikan Jakarta sebagai kota yang lebih humanis. Setitik ide saya semoga bermanfaat mengurai kemacetan yang ada di Jakarta khususnya dan Indonesia umumnya.

#Menuju100SmartCity
#MenujuSmartCity

Friday, 10 November 2017

Hotel Aviary Bintaro; Modern, Cozy, Kids-Friendly



Buat kamu yang ada acara di Bintaro dan perlu menginap di tempat yang nyaman mungkin hotel Aviary bisa jadi pilihan. Hotel baru ini berada di jalur utama Bintaro Jaya. Lokasinya sangat strategis berada di antara pusat bisnis, pertokoan, mall hingga sekolah.

Awalnya saya tidak mengira kalau ini adalah sebuah penginapan, karena selain tidak ada tulisan hotel, desain luarnya juga serupa dengan kantor-kantor di sekitarnya. Namun, jangan salah, dibalik desainnya yang begitu saja, ada satu area di lobby yang menarik perhatian si kecil yaitu taman burung mini.
Lobbynya luas, kental nuansa alamnya
Taman burung mini

Selagi menunggu proses cek-in yang gak pakai ribet, si kecil bisa melihat-lihat aneka burung sambil berteriak "kak, kak, kak". Burung-burung pun keluar dari sarangnya dan bersahutan menjawab "kak, kak, kak". Aah seru hal ini jadi nilai tambah buat kami, karena si kecil sangat menikmatinya.

Waktu itu kami dapat kamar di lantai 3. Perlu naik 1 lantai lagi yaitu lantai P untuk menikmati fasilitas kids corner, kolam renang, dan fitness center. Karena lantai P ini semi terbuka jadi, anginnya cukup kencang. Apalagi kalau hujan deras sepertinya tidak memungkinkan untuk beraktivitas.
Semi-outdoor, anginnya cukup kencang

Kids cornernya ini tidak ada pengawasan dari pihak hotel. Jadi kalau anak-anak mau bermain orang tua wajib menemani. Areanya cukup luas dan bersih. Kolam renang pun demikian, temani si kecil saat berenang ya moms. Airnya cukup dingin mungkin karena malam sebelumnya hujan. Sayangnya, saat kami mau gunakan fasilitas ini di sekitar jam 08.30 kolamnya justru sedang dibersihkan. Padahal jam segitu, jamnya orang berenang kan ya? Hihi #caripembenaran.
Airnya lumayan dingin, brrr...

Kamar yang kami tempati tipe Deluxe di harga 700an/kamar/malam sudah termasuk breakfast untuk 2 orang eh 3 deh sama si kecil. Pertama kali masuk kamarnya sih sayangnya yang tercium sedikit bau kurang sedap, saya pun mengecek kamar mandi tapi yang tampak malah bekas shampoo tamu sebelumnya.
Viewnya ya ... gitu aja deh
Hiks.. kesan pertama untuk kamar gak banget ya. Suami pun menelpon housekeeping untuk minta dibersihkan dan katanya bau itu karena saluran airnya kering. Oke, baiklah staff yang ramah itupun telah meminta maaf karena ketidaknyamanan yang kami dapatkan. Oya, kalau biasanya sabun itu kita dapatkan secara eksklusif pertamu, tapi di Aviary ternyata sabunnya itu bisa kita gunakan rame-rame, karena mereka gunakan sabun dan shampoo cair botolan yang bisa dipakai berkali-kali oleh para tamu. Jadi buat kamu yang gak nyaman sabun seperti ini jangan lupa siapkan sabun dan shampoo sendiri. Perlengkapan yang lain sih OK.
Kok bisa ada bungkus shampoo???

Untuk makan siang dan malam gak usah bingung, banyak makanan sekitar kok tapi tetap harus pakai kendaraan, atau kalau mager alias males gerak di-go-food aja, banyak kuliner enak di sini, salah satunya Bakso Boedjangan yang endesss surendes.

Nah kalau yang dapat jatah breakfast mah gak usah bingung, tinggal cus ke lantai G ke ruang eatery. Menunya beragam dan enak-enak. Cuma pas saya sarapan di sana tidak ada nasi putih entah kebetulan atau memang demikian adanya. Jadi buat si kecil saya minta sendiri ke waitersnya. Yang enak itu menurut saya dimsumnya.
Ini menu sarapanku untuk si FCers.

Bicara soal makanan saya jadi ingat ada sedikit pengalaman kurang menyenangkan juga. Jadi waktu itu hampir jam 11 malam saya laper banget, saya pun menelpon restoran, saya pesan nasi goreng aviary, kamar xxx ya mba, "pesan saya begitu". Oke si mba ini bicara cepet banget, sementara saya udah antara lapar dan ngantuk. Si mba ini mengulangi orderan saya & sependengaran saya sudah sesuai, silakan ditunggu sekitar 15 menit ternyata sampai jam 23.30 belum datang juga, saya pun menelpon lagi, katanya sudah diantar tapi ke lantai yxx. 

Whuatttt??? Kamar saya kan di xxx. Si mbak ini berinisiatif memasukkan orderan lagi, langsung saya bilang gak usah deh mba udah ngantuk. Saya jadi mikir, kan biasanya kalau ditelpon line kamarnya nyala ya tanpa perlu kita sebut kamar berapa dia juga udah tau mestinya. Aah sudahlah, sudah malam, mungkin sama-sama ngantuk.

Bagusnya ini hotel suasananya nyaman banget, mengusung konsep green living bagus untuk segala kebutuhan seperti pertemuan bisnis, liburan keluarga hingga rapat. Desain interiornya juga modern, perpaduan warna alam antara hitam, abu, hijau membuat suasana lebih tenang dan rileks.

Naah, demikianlah review saya kali ini di hotel Aviary Bintaro. See you on next review.

Saturday, 4 November 2017

Inilah Sosok Wanita Inspiratif di Balik Cheese Cake Panggang in Jar Umraz yang Kekinian



Beberapa tahun belakangan ini, Indonesia mulai diramaikan dengan maraknya aneka kue cantik. Bahkan kalangan artis pun kini mulai meramaikan geliatnya untuk dijadikan panganan khas daerah setempat. Walaupun kadang tidak jelas filosofi kuenya, namun kalau sudah tokoh publik yang bicara apapun bisa jadi laris.

Namun, bagaimana kalau misal ada produk serupa dikembangkan oleh seorang ibu rumah tangga biasa? Rezeki memang hak Allah SWT. Adalah Fitria Anggraeni seorang ibu dengan 4 anak yang kini merintis usaha Cheese Cake Panggang in Jar. Sebuah inovasi cantik yang digodok bersama sang suami demi kemudahan mengonsumsi, kemudahan untuk dibawa-bawa sebagai bekal hingga menjadi diferensiasi dari cheese cake serupa yang lebih dulu ada.
Sumber Pic: Official Fanpage of Dapur Umraz

Berawal dari kesukaannya terhadap cheese cake dari salah satu brand roti ternama di Indonesia, Ummu sapaan hangatnya memiliki ide untuk membuat hal serupa. Karena produk gelatin masih banyak yang subhat tanpa keterangan halal, beliau membuat cheese cake yang dipanggang, tidak menggunakan gelatin sehingga lebih aman dan nyaman dalam mengonsumsinya.

Kemasannya yang unik dalam sebuah jar juga merupakan inspirasi yang didapat dari hasil pengamatan di internet. Yang mulanya hanya membuat 4 jar, ternyata atas izin Allah Swt sambutannya sangat baik. Bahkan Dapur Umraz sempat menggaet lebih dari 15 agen dan puluhan reseller di berbagai kota hingga ke balikpapan.
Namun, kini beliau mulai mengubah pola pemasarannya. Mengingat kualitasnya yang mungkin bisa turun karena lamanya dalam perjalanan, maka untuk sementara waktu beliau menghentikan seluruh kerjasama keagenan. Saat ini ia hanya menerima reseller dengan jumlah pembelian tertentu. Hal ini dilakukannya justru untuk menjaga kualitas produk yang dihasilkannya. Untuk penggantinya beliau mencoba menjadi rekanan Go-Food dan insya Allah untuk rencana jangka panjang beliau juga ingin membuka gerai kecil di beberapa tempat yang strategis.
Sumber Pic: Official Fanpage of Dapur Umraz
Merk dagang Baked Cheese Cake in Jar Umraz  ini ditetapkannya atas dasar sang pemilik lebih dikenal dengan nama Ummu Razan. Yakin tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua berawal dari permintaan salah satu orang tua teman anaknya di sekolah untuk membuat sebuah akun media sosial demi kemudahan komunikasi dan informasi. Namun, keberadaan media sosial tersebut justru membuat Ummu Razan tertarik dengan dagangan online teman-temannya.

Bukan tertarik belanja, melainkan ia melihat peluang untuk membuka bisnis yang bisa dijalankan secara online juga. Bersamaan hal itu ia dan keluarga hijrah ke Bekasi setelah sebelumnya menetap di Bandung. Bukan hanya hijrah fisik yang dilakukannya, namun juga hijrah hati. Keinginnanya untuk lebih dekat pada-Nya membuat ia dan suami memutuskan menghentikan usahanya terdahulu yang tidak syariat di mata agama.

“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad 5: 363).

Dari sebuah dapur mungil di rumahnya di kawasan Beji Depok, kini Dapur Umraz berhasil meraup omset rerata 40 juta/bulan. Usahanya pun kini telah mengantongi izin PIRT,  Dinas Kesehatan juga sertifikasi halal dari MUI (Majelis Ulama Indonesia). Beberapa kali juga mendapat undangan dari pemerintah, serta difasilitasi untuk ikut pameran. Bahkan, Dapur Umraz juga sempat mendapat tawaran untuk mengisi produk di 5 gerai salah satu brand supermaket di Indonesia. Namun, bagaimanapun ia sadar akan perannya sebagai seorang istri dan ibu, tugas utamanya adalah menjadi madrasah utama bagi sang anak, serta istri yang taat pada suami sehingga tidak semua tawaran tersebut mampu dipenuhinya.


Sebagaimana usaha pada umunya, Dapur Umraz pun mengalami lika-liku dalam mengembangkan usahanya. Keyakinannya akan ketetapan Allah membuat hatinya makin tenang dalam menjalani hidup dengan segala problematika yang ada. Di tengah makin berkembangnya Dapur Umraz siapa yang menyangka bahwa usahanya pun pernah mengalami hal yang tidak mengenakkan. Mulai dari faktor eksternal, bahan baku yang tiba-tiba naik, dikomplain customer, hingga kerugian 100 jar akibat cheese cake yang gosong, "Alhamdulillahbala kulli hal...^^" ujarnya. Namun ia pun tidak mengelak banyak pula faktor internal yang menyergap. Itu semua dianggap sebagai bentuk kasih sayang Allah Swt kepadanya, dikarunia 4 buah hati, di mana salah satunya Allah beri buah hati spesial dengan organ ginjal yang bocor.

Semoga ditengah tantangan yang menghadang, Dapur Umraz bisa terus berkembang dan usahanya membawa keberkahan.
Sumber Pic : Official Instagram of  @Dapur_Umraz