Menginap di Hotel Griptha Kudus

Minggu, Juli 02, 2017




Ini bukan kali pertama kami menginap di Griptha Hotel. Selalu suka dengan hotel ini karena lokasinya yang sangat strategis. Walaupun ada sanak saudara di Kudus cuma boleh lah ya sesekali menginap di sini. Lagi pula ini kali pertama anak kami mudik ke kampung halaman kakeknya.

Jujur, saya belum menemukan hotel yang lebih nyaman dari Griptha Hotel di Kudus. Seperti yang sudah saya katakan, lokasi hotel ini juara deh. Berada di jalur utama, tidak jauh dari gerbang kota kudus, yang mana gerbang ini didesain sangat cantik menyerupai kupu-kupu dan bertuliskan Kudus Kota Kretek (hiks, sangat menyayangkan dengan icon kota kreteknya). Kalau kita datang dari arah demak, hotel Griptha ini ada di sebelah kanan jalan. Sangat mudah menemukan hotel ini. Saya bahkan bertemu dengan teman dumay ya di hotel ini dan dia juga akui sama sekali tidak kesulitan menemukan tempat ini. 

Kita juga tidak butuh waktu lama untuk sampai ke alun-alun. Karena memang jalan ini hampir tidak pernah ada kemacetan yang berarti.

Hotel ini tampaknya telah mengalami perluasan. Tempat yang dulu menjadi lobby hotel kini beralih fungsi menjadi restoran, sementara lobby hotel sekarang justru di belakang. Lobby baru pun tidak terlalu luas, sehingga kalau peak season dan fully booked agak berdesakan. Saya sendiri sempat mengalami miskomunikasi saat check-out. Kamar yang sudah kami bayarkan di awal dan sudah kami kirim bukti transfernya by email, menurutnya tidak ada. Baiklah, kalau begitu kita kami email ulang saja, dan semua beres.

Untuk kamarnya kami mendapat tipe signature. Kamar di lantai 3 ini mengahadap sawah yang okey banget lah untuk memanjakan mata. 

Kamar ini cukup luas, sayangnya kamar mandinya yang agak sempit. Padahal kalau mau memangkas luas bed roomnya sedikit saja, kamar mandinya bisa lebih nyaman. Baju atau handuk yang menggantung di pintu jadi tidak basah terciprat air shower. Untuk amenities, ketel, lemari, tv, dan lain-lainnya sudah sesuai standar bintang 3. Harga kamar ini di peak season adalah IDR 650.000/room/night.



Lagi-lagi karena ini peak season ya, jadi saya sudah menurunkan standar ekspektasi saya terhadap sarapan. Baik itu dari segi suasana, menu maupun pelayanan. Pertama kami datang, seorang pelayan sudah berdiri di depan menanyakan nomor kamar kami. Ternyata itu tidak bertahan lama. Crowdednya tamu hotel yang hendak sarapan memaksa mereka mengeluarkan seluruh timnya. Jadi kalau-kalau ada yang bukan tamu hotel dan ingin makan gratis rasanya sangat mungkin dilakukan. Pelayanannya sendiri menurut saya agak kurang jelas, mana yang seksi repot (baca: ambil piring kotor), mana yang menyapa tamu, mana yang menyiapkan makanan. Rasa-rasanya semua bahu-membahu agar semua berjalan dengan baik. Satu-satunya pelayan yang tidak diganggu gugat adalah di egg-corner. Sejak saya datang hingga selesai makan tugasnya belum selesai, makin siang makin mengular antreannya. 

Baca juga : Menginap di Royal Tulip Gunung Geulis Bogor


Bagi saya yang awam soal design, lebih suka dengan tempat makan yang lama, yang kini menjadi restoran. lebih cozy dan mewah. Sementara tempat makan yang baru ini saya kurang suka dari segi keamanan dan kenyamanan. Tampak lebih gelap, kurang pencahayaan alami, serta sirkulasi udara yang kurang baik. Belum lagi design buffetnya yang lebih tinggi dari sekitar, agak membahayakan buat anak kecil yang aktif, mungkin agar terasa lebih luasmaka dibuat demikian. Berikut saya ambil gambar saat hari ke-dua di mana agak lebih kondusif.
 



Menunya sendiri menurut saya cukup lah. Ada Lentog Tanjung yang rasanya enak, ada soto kudus, buffet, serta buah. Sayangnya untuk buah kurang beragam hanya ada semangka dan melon, jusnya pun sepertinya bukan dari buah segar melainkan ekstrak juice. Ada juga aneka bubur seperti bubur ayam, bubur kacang hijau, serta bubur mutiara.


Liburan di hotel, wajib berenang, kalau enggak siap-siap ada yang cemberut (siapa lagi kalau bukan si kecil). Berenang ini agenda wajib bagi kami. Sayangnya, kolam renang di sini tidak ada kolam cetek alias kolam untuk anak. Jadi mau gak mau ayahnya yang berenang sambil menggendong si kecil. Ada fitness center di atasnya. Fasilitas yang belum pernah kami gunakan kalau di hotel. Kenapa ya? Entahlah, hehehe ...


Berharap sih ke depannya ada kids corner untuk anak-anak, sekadar perosotan, atau pensil warna untuk mewarnai. Heuheu, minta maaf karena saya juga tidak banyak mengeksplor hotel ini (maklum banyak pasukan) tetapi kalau kamu telah menempuh perjalanan jauh, sempatkanlah mampir di Griptha untuk melepas lelah tour de javamu. Atau kamu memang tinggal di sekitar hotel ini, enggak ada salahnya sesekali staycation di sini. So far Griptha Hotel Kudus memang Best In Town.

You Might Also Like

8 komentar

  1. Iya mba.. terimakasih infonya mba

    BalasHapus
  2. Ke Kudus biasa cuma lewat aja, seringnya stay di Semarang..Padahal nggak jauh juga. Bolehlah lain waktu Griptha ini dicoba..Biar nggak cuma sering dengar lentog tanjung, tapi pernah icip rasanya :)
    Thanks infonya Mbak//

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mba Dian.. Saya malah pengen coba nginap di Semarang juga terutama yang dekat simpang 5.

      Hapus
  3. Wah sekarang banyak ya yang review hotel. Bikin saya pengen juga nginep di hotel tapi sayang blum ada ksmpatannya buat jalan2 jauhnya hihihi

    BalasHapus
  4. Makasih infonya mbak, bisa buat referensi ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba Gies, nanti kalau saya ke JOgja minta referensinya juga yakk...

      Hapus