#Memesonaitu Kala Kita Mampu Memaafkan Dan ...

Sabtu, Maret 25, 2017




Bagaimana mungkin bisa, kita hidup tanpa manusia lain di muka bumi ini? Manusia, sejatinya memang hidup sebagai makhluk sosial. Bukan berarti kita hidup dengan bayang-bayang orang lain dan menjadi tidak mandiri. Menjadi makhluk sosial artinya kita saling membutuhkan. Ya membutuhkan pertolongan, membutuhkan perhatian, membutuhkan informasi, intinya adanya interaksilah di antara kita. 

Lalu, bagaimana ketika kita terjebak dalam sakit hati yang teramat dalam? Memaafkan, mungkin menjadi kata yang mudah terucap namun sulit dilakukan. Boleh jadi saat ini kita yang tersakiti, namun nanti bagaimana kalau kita yang secara sengaja ataupun tidak sengaja menyakiti orang lain? Dan, bukankah kita juga ingin dimaafkan oleh-Nya?

Ada yang bilang manusia memang tempatnya salah dan khilaf. Tak ada manusia yang sempurna di muka bumi ini. Lalu mengapa kita masih emosi dengan menyimpan amarah? Baiklah, ini juga tidak mudah bagiku. Dipermalukan di hadapan umum oleh seorang sahabat yang sudah ku percaya? Hmm, gak cuma marah, rasa sesak di dada pun pasti ada. Kalau tidak ingat aku berada di mana mungkin sudah ku libas dirinya. Aah tetapi, lagi-lagi aku bersyukur karena tidak ada ilmu yang sia-sia selama kita mau memakainya. Ilmu konseling serta pengembangan jiwa yang pernah ku kenyam membuat aku bisa berkilah dan membuat suasana tetap santai dalam kondisi demikian. 

Terkejut pastilah menjadi reaksi awal kala itu terjadi padaku, namun terus-terusan terkejut tidaklah menyelesaikan masalah. Bagaimana pun the show must go on. Menghindar hanya akan membuat kita terlihat lebih memalukan. Kita tidak akan tahu apa yang mereka perbincangkan selanjutnya. Apakah mereka masih terfokus dengan kekonyolan kita atau sudah berganti dengan topik lainnya. Dan ternyata mencoba tetap tenang dan menarik nafas dalam selain dapat mengurangi sedikit kekikukan kita, juga dapat mengendalikan tutur kata dan perilaku lho. Lantas, apakah serta merta selesai? Tentu tidak, pasti kita akan masih sakit hati dan menggerutu. Namun cobalah mengalah sesaat demi kebaikan nantinya. Kalau kamu punya stok lelucon, maka ini bisa dikeluarkan sebagai senjata. Sedikit berguyon juga bisa membuat teman-teman lain cepat melupakan apa yang telah terjadi. Dan pastinya hadapi senatural mungkin saat di tempat kejadian.
Kalau nantinya kamu mau ngomel-ngomel sama orang yang sudah mengecewakan tersebut, silakan saja tapi lakukan secara anggun ya. Karena kita tahu rasanya sakit hati dipermalukan di depan umum. Maka jangan lakukan hal demikian terhadapnya. Keluarkan saja semua uneg-uneg kamu terhadapnya di belakang layar.

Lalu, bagaimana dengan aku dan sahabatku itu kini? Yah kami masih menjadi teman yang baik. Dan aku memilih tidak menegurnya karena perbuatannya itu. Tidak menegur di sini bukan aku tidak mau mengajak mengobrol namun aku memilih tidak memberitahunya rasa sakit hatiku. Aku kasihan dan ingin membiarkan ia terbebas dari rasa bersalah. Yah, memang antara kasihan dan bodoh ini hanya beda tipis dalam mataku. Namun itulah sikap yang memesona bagiku. Yang bagaimana? Ya yang seperti judul di atas. #Memesonaitu kala kita mampu memaafkan orang yang telah menyakiti kita dan kita bisa senatural mungkin berinteraksi dengannya tanpa ada lagi rasa sesak di dada. 

Yah memaafkan memang bukan hal yang mudah, namun cobalah renungkan, bukankah kita juga ingin dimaafkan oleh Yang Maha Kuasa? 

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin bahwa Allah mengampuni kalian? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QSAn Nur ayat 22)

Memaafkan sejatinya memang bukan untuk mereka tapi justru untuk kebaikan diri kita sendiri. Masih perlukah alasan lain untuk menolak memaafkan? 


You Might Also Like

10 komentar

  1. bagiku tetap tak semua hal harus dimaafkan. hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehee.. Monggooo, feel free om :)

      Tulisan tersebut juga sebenarnya untuk pengingat diri saya pribadi ^.^

      Hapus
  2. Idem mak, tidak ada untungnya menyimpan dendam, saya juga memilih untuk memaafkan daripada sesak mengingat setiap kesalahan dan bikin penyakit, hhihi... inspiratif mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai mak Eni.. iya saya juga terus belajar utk bisa memaafkan. Semoga Allah juga memaafkan kesalahan-kesalahan kita ya mak

      Hapus
  3. sulit juga mbak. terus terang buat saya ini berat sekali kalau terjadi kepada saya.

    tapi mungkin waktu bisa mengobati hubungan yang terganggu menjadi baik lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. Saya juga masih belajar mbak. semoga ke depannya hubungan kita dengan siapapun itu baik-baik saja ya.. :)

      Hapus
  4. Besar hati sekali mbak..
    Kalo aku susah e mbak..biasanya aku tipe kapok an, dan klo merasa sudah pernah tersakiti...aku akan ingat itu..dan susah klo kemudian kembali ke netral..

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya pun masih belajar mba, tulisan itu sebagai pengingat diri sendiri :)

      soalnya kalau aku suka gak tenang sendiri macam gelisah gitu. hee ...

      Hapus
  5. Bagikuh Maemaafkan insyaallah bisa yg susah bersikap senatural mungkin hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Qiqiqiqi... Senatural mungkin maksudku juga gak berarti natural lho mak.. namun mencoba.. 😊

      Hapus