Satu Kata, Sejuta Asa ; FORGIVENESS

Selasa, Februari 07, 2017



Pernah berbuat salah? Pasti! 

Ingin dimaafkan? Tentu dong!

Kenyataannya dua hal tersebut tidak mudah dilakukan, kecuali oleh mereka yang memiliki jiwa ksatria. Siapakah yang memiliki jiwa ksatria ini? Salah satunya ya anak-anak kita. Anak-anak balita dengan kelucuannya sering kali membuat kita jengkel bahagia. Di satu sisi senang melihatnya sehat, aktif, ceria. Namun di sisi lainnya rasa lelah ini seolah menguras tangki kesabaran kita. Sampai-sampai tanpa sadar karena anger management yang kurang baik anak jadi korbannya. Suka menyesal sih akhirnya apalagi saat melihat anak tidur dengan nyenyaknya. Aaah, baru nyadar ... Apa yang baru saja kulakukan padanya??? Heuheu ....

Perasaan merasa bersalah akhirnya kerap menghantui sebelum meminta maaf kepadanya juga sebelum mendapat maaf darinya. Aah, sampai heran sendiri sebenarnya hati anak balita ini terbuat dari apa sih Ya Allah? Mereka mudah banget memaafkan, terbukti gak cuma di bibir aja tapi dari perilakunya juga menunjukkan demikian. Yang langsung peluk-peluk bundanya ala teletubbies sampai yang nempel kaya prangko langsung bikin hati meleleh gak keruan.

Belajar tentang maaf-memaafkan, ternyata anak kecil terutama balita bisa menjadi guru yang sangat bijak. Kita sering kali menuntut anak meminta maaf atas hal yang belum mereka ketahui hakikat kebenarannya. Mungkin bagi seorang anak meminta maaf karena telah merebut mainan temannya sesulit kita meminta maaf telah memecahkan pot bunga kesayangan tetangga yang harga pot sama bunganya gak kira-kira. Ada rasa takut, malu, dan sebagainya. 

Mungkin awalnya sulit, mereka tidak mau, sifat keakuan mereka masih tinggi, yang mereka tahu adalah konsep enak, tidak enak, bukan baik, tidak baik. Karena meminta maaf itu tidak enak gak heran kalau awalnya enggan minta maaf. Tapi dengan memberikan pengertian dan pemahaman yang baik bahwa setiap hal yang melukai perasaan seseorang kita harus minta maaf lama-kelamaan akan terbiasa dan menjadi sesuatu yang mengganjal kalau gak dilakulan. 

Kedengarannya teori banget mungkin karena kita sering membenarkan yang biasa bukan membiasakan yang benar. Untuk kamu, aku, kita, mereka semoga bisa melatih anak dan menanamkan jiwa ksatria salah satunya berani meminta maaf dan ikhlas memaafkan. Aah ga cuma anak-anak, kita yang dewasa juga harus ikut latihan melakukan ini.

Bukankah kita juga mau Allah SWT menerima permintaan maaf kita? So, maafkan maka kau akan dimaafkanNya.

Terkadang ada perasaan takut juga untuk mencoba menulis ini. Why? Because, Allah berfirman dalam surat Al-Ankabut ayat 2 "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:"Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?"

Termasuk anjuran meminta maaf dan memaafkan. Makanya saya sering menuliskan "this is written for myself" diujung postingan agar menjadi pengingat diri dan gak bermaksud menggurui. Termasuk tulisan ini pun demikian. Banyak kan kita jumpai sehari-hari pada akhirnya seseorang akan diuji pada apa yang diucapkannya. Termasuk oleh seorang motivator sekali pun.

Baiklah yang jelas menurut beberapa master di kelas online tentang pengembangan jiwa, meminta maaf dan memaafkan itu bisa menyembuhkan jiwa dan raga yang sakit. Karena keduanya berarti melepas energi negatif yang bersarang dalam tubuh.

Katanya sih kalau sulit melakukannya, bayangkanlah betapa kita ingin Allah mengampuni semua dosa-dosa kita.

Haah ... Buat kamu semua yang baca ini hayuklah tidak perlu nunggu lebaran untuk saling bermaafan.

Tulisan ini diikutsertakan dalam proyek #1minggu1cerita, demi menjaga konsistensi dalam menulis. Masa iya sih dalam seminggu gak ada yang bisa ditulis walau hanya ...

You Might Also Like

8 komentar

  1. I do like it. nice posting! keept writing :)

    BalasHapus
  2. Anak-anak dengan segala kepolosannya memang sebaik-baiknya guru ya Mbak 😊

    Dan suka banget bagian ini: "meminta maaf dan memaafkan itu bisa menyembuhkan jiwa dan raga yang sakit. Karena keduanya berarti melepas energi negatif yang bersarang dalam tubuh."

    Salam kenal ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai mba...

      Iya betul entah terbuat dari apa hati anak-anak ya, sebagai orang tua sampe suka merasa bersalah sendiri.

      Dan memaafkan itu memang sebenarnya untuk kebaikan kita sendiri sih. Salam kenal :)

      Hapus
  3. PR selanjutnya, gimana caranya tetap memelihara kebersihan hati anak hingga dewasa? 😣
    -Tatat

    BalasHapus
  4. Kalau udah besar malah gengsi he he

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heuheu, mudah-mudahan gak.

      Semoga tetap jadi pribadi yg memaafkan

      Hapus