Tuesday, 24 January 2017

Penguin dan Unta Merindukan Kampung Halaman


Di balik layar pentas berwarna merah itu, tampak Penguin dan Unta yang sedang menanti giliran untuk tampil. Tawa riuh penonton sama sekali tidak memengaruhi suasana hati sang Penguin. Penguin yang hanya diam tertunduk lesu, sangat mengusik perhatian Unta. Unta pun memberanikan diri bertanya kepada Penguin.
"Hai, Penguin! Mengapa kamu bersedih? Tidak mengerti kah kau sebentar lagi kita akan tampil?" Tanya seekor Unta penuh perhatian.
“Lihatlah hampir seluruh kursi sudah diisi oleh penonton. Bahkan kursi barisan depan sudah terisi oleh pejabat penting di kota ini. Berbagai media besar sudah siap meliput aksi kita. Ayolah semangat Penguin! Sebentar lagi wajah kita akan masuk di halaman depan sebuah surat kabar ternama. Woow!” Teriak Unta memberi semangat kepada Penguin.
Namun di luar dugaan, tangis Penguin malah makin meledak. Unta terkejut. Ia khawatir perkataannya justru menambah sakit hati Penguin.
"O'ow ... Maafkan aku Penguin, apakah ada yang salah dengan perkataanku?" Tanya Unta cemas.
"Unta, tidak sadarkah kau tempat kita seharusnya bukan di sini?" Tanya Penguin dengan penuh marah.
"Aku kangen ayah dan ibuku. Aku dipisahkan dari mereka sejak kecil. Kamu mengertikan, sulitnya aku bertahan dalam cuaca ekstrem seperti ini? Aku tidak peduli mereka semua bilang aku manja." Tunjuk penguin terhadap beberapa pelatih sirkus yang sedang memberi arahan kepada seekor Harimau.
"Aku tak bisa hidup lama-lama seperti ini. Air dingin buatan ini sungguh menyiksaku. Ini masih jauh dari kata layak sebagai habitat baruku. Aku kangen kampung halamanku. Dengar ceritaku ini ya. Dulu aku sangat bahagia hidup dan bermain bersama teman-temanku dalam kondisi yang menurut kalian sangat dingin. Hamparan es putih terbentang sejauh mata memandang. Aku tidak pernah merasakan panas yang begitu menyilaukan mata di siang hari. Aku bisa bermain, makan, tidur kapanpun aku mau. Tidak ada yang memaksaku harus begini dan begitu. Tidak kah mereka merasakan penderitaanku?"
“Sabarlah Penguin sayang. Aku pun merasakan hal yang sama denganmu. Kamu tahu dimana harusnya aku berada?” Tanya Unta .
 Penguin pun menggeleng dengan tatapan nanar sambil melihat Unta. “Dimana kah unta?”
“Aku seharusnya hidup di padang pasir. Aku kebalikan darimu. Aku justru mampu hidup di temperatur udara yang dapat membunuh mayoritas makhluk hidup. Ooh Penguin aku jadi kangen juga dengan kampung halamanku. Apalagi saat musim haji tiba. Aah rasanya syahdu sekali, melihat manusia dari penjuru dunia datang untuk beribadah ke tanah suci. Tidak sedikit dari mereka ingin berfoto denganku.”
“Aah kamu narsis sekali Unta, hahaha ....” Tawa riuh Unta dan Penguin di sela-sela kegalauan mereka.
“Hhhh ... Aku kesal dengan diriku sendiri yang tidak mampu berbuat banyak bahkan untuk menolong diriku sendiri. Bagaimana ya Unta cara kita bisa kembali ke kampung halaman kita?”
“Hmm ...” Sejenak Unta dan Penguin berfikir. Tiba-tiba dengan sedikit teriak sebagai tanda ditemukannya ide brilian Unta membisikkan sesuatu kepada Penguin. Penguin pun mendekat. Penguin tampak sangat senang. Walaupun cara ini belum tentu berhasil setidaknya mereka sudah mencoba menyuarakan isi hatinya.
"Penguin, sekarang giliranmu tampil. Semangat! Demi kembali ke kampung halaman."
"Iya Unta, doakan aku ya!”
Dengan semangat menggebu-gebu Penguin pun tampil. Dengan lincahnya ia berenang dan kembali ke atas, berkali-kali ia lakukan itu dengan semangat. Saat akan lompat kembali ke air, Penguin terpeleset, ia tergolek di lantai tak berdaya. Dua pukulan keras pun diterimanya sebagai tanda untuk kembali tampil. Namun Penguin tetap tak bergeming.
Tiba-tiba suasana menjadi kacau. Penonton banyak yang kecewa. Kejadian ini sungguh diluar dugaan. Beberapa media meliput kejadian ini sebagai suatu masalah yang besar. Berbagai asumsi pun terus bergulir. Ternyata keadaan ini membuat para pejabat dan media membuka mata atas apa yang sudah terjadi terhadap Penguin dan kawan-kawannya.

Bersyukur, Penguin dan teman-temannya kini dirawat oleh sebuah komunitas pecinta binatang. Setelah pulih mereka semua akan dikembalikan ke habitat aslinya. Sementara sang pemilik sirkus kini harus melalui pemeriksaan oleh yang berwajib terkait hal ini.
===
Cerita ini diikutsertakan dalam program #1minggu1cerita, demi menjaga konsistensi dalam dunia kepenulisan. 


10 comments:

  1. Sederhana dan menarik alur bahasanya. Kalau ditambah sedikit bubuk modernisasi pasti keren :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kakak sengaja biar mudah dicerna anak-anak.

      btw, contoh bubuk modernisasi kaya gimana ya ?

      Delete
    2. misalnya untuk suasana sirkusnya mbak... kalau mau dibuat modern, mungkin bisa ditambahkan

      aktifitas foto-foto dengan menggunakan handphone...
      riuh musik dari pengeras suara berteknologi tinggi...
      permainan cahaya laser mengiringi dimulainya acara...

      begitu sih..

      ceritanya kuat banget di dalam dialog dua tokoh..
      tapi kan end of story nya di bawa keluar ke lingkungan sekeliling..

      kalau lingkungan sekelilingnya belum di beri bumbu.. kesannya.. itu kisah yang telah terselesaikan... sulit koneksi ke kondisi saat ini..

      ehehe.. maaf ya jadi panjang...

      Delete
    3. ahhh iyaak, kurang mengeksplor nih. heuheu..

      Delete
  2. Mohon kritiknya utk tulisan saya.. Jika sudi mampir..

    http://firmanlaia86.blogspot.co.id/


    Trims sblmny y :)

    ReplyDelete
  3. Ah. Sedih ya :( Karena itu juga sirkus yang menampilkan binatang dijauhi dan ditentang orang saat ini.
    Salam kenal,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga :)

      Iya mau gimana lagi. kasihan juga sih melihat binatang-binatang diperlakukan seperti itu demi memenuhi kepuasan manusia yang gak pernah puas.

      Delete
  4. huaaaa kayaknya baru kali ini yaaa, tema kampung halaman difiksikaaaan, duuuuh keren deeeeh

    ReplyDelete
  5. huaaa.. justru ini saking minimnya ide kakaaa... :)

    ReplyDelete