Thursday, 22 December 2016

[Curhat] Because Every Child Is Unique

anak istimewa




Rasa-rasanya seorang pendidik lebih paham kalau tiap anak itu unik. Tidak semua anak saat besar nanti ingin jadi penari, penyanyi, presenter, politikus, pesulap, bahkan pelawak atau profesi lain yang menuntut dia untuk tampil di depan umum. Siapa tau dia mau jadi penulis. #eaa.. 

So, tidak perlu lah memaksa ikan untuk pandai berkicau, atau burung pandai berenang, apalagi memaksa siput berlari. Percaya deh, bakalan capek sendiri. Fokus saja lah pada kelebihan si anak, amati kesukaannya, lalu fasilitasi dan asah terus sampai tajam.

Kami mengajarkan kebebasan dalam proses bermain dan belajarnya selama itu sesuai dengan norma agama, susila serta tidak mengancam keselamatan jiwa. Kami tidak pernah melarang anak kami mewarnai bunga dengan warna hitam, karena memang ada toh bunga warna hitam, tapi mengapa engkau terapkan aturan itu pada anak kami dengan alasan hitam itu jelek? Mungkin saat itu ia ingin mengekspresikan perasaanny. So, pliss… jangan patahkan semangat anak-anak dalam berkreasi. Plisss jangan nilai gambar anak kami yang masih acakadut, karena mereka tidak faham itu. Apresiasi lah atas proses yang telah dilakukannya. Plisss jangan paksa anak kami menari, karena toh agama kami juga tidak pernah mengajarkan itu. Mungkin mereka lelah membujuk anak kami untuk sekedar mau menjawab pertanyaan. Saya faham kok. Ini memang melelahkan dan murid kalian bukan hanya anak saya seorang. 

Mungkin saya yang terlalu idealis. Anggaplah kami menyewa permainan kalian selama satu tahun ini dan biarkan kami bermesraan di sana. Menurut mereka anak kami memang cerdas secara kognitif hanya saja untuk bersosialisasi bersama teman sebayanya masih malu-malu. Namun salahkah anak usia 3 tahun masih ingin terus bersama bundanya? Silakan googling bagaimana pendapat bunda Elly Risman terhadap hal ini? Iya, apa urgent anak usia 3 tahun untuk sosialisasi? Kita aja yang dewasa kalo ketemu orang baru yah juga diem-dieman dulu. 

Saat melihat isi BLP kemarin Alhamdulillah saya anggap itu sebagai doa. Namun bila melihat kenyataan di lapangan rasanya kok apa yang tertulis sepertinya terlalu bagus. Kalau penilaian itu untuk di rumah saya setuju, tapi kalau di sekolah kok rasanya terlalu berlebihan. Mengapa tidak kaian katakana keadaan sebenarnya? plisss stop melabeli jago kandang, stop membandingakan dengan yang lain, atau memberikan persamaan dengan yang lain. Karena setiap anak itu unik. 

Bersyukurlah anak kita tidak pernah membandingkan kita dengan orang tua lain yang sukses membangun perusahaan sendiri di usia kita saat ini. Mereka terima kita apa adanya lho. 

Satu lagi yang saya sayangkan tidak adanya tempat kritik dan saran, agar bisa menjadi bahan evaluasi bagi sekolah kalian juga. 

Hhhh….









This entry was posted in

2 comments:

  1. yang sabar ya mbak, memang susah mencari orang yang mengerti. Harusnya memang pendidik lebih paham bagaimana memperlakukan anak. Saya juga pernah kesel waktu anak saya 3 tahun juga masuk PAUD, guru-gurunya cuek malah lebih senang ngobrol sendiri kalau saya pas diam-diam mengamati (kebetulan sekolahnya dekat kantor), muridnya juga dicampur dan jadilah itu gaduh minta ampun.
    Akhirnya setelah cari info sana-sini ternyata anak-anak memang baru bisa bersosialisasi di umur 5 tahun makanya habis itu nggak saya sekolahin lagi, bentar lagi anak sulung saya ini 5 tahun usianya dan sekarang sudah punya teman main anak tetangga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ternyata kita senasib ya dalam hal ini mba WidaAya. Saya sepertinya juga mau stop dulu nih sekolahnya, biar langsung TK aja..

      Kalo si sulungnya gimana tuh mba tanggapannya dari yang sehari-hari sekolah terus tiba-tiba berhenti?

      Delete