Rabu, 13 Desember 2017

Mengintip Geliat Ibukota dari Ketinggian Lantai 15



Kaget. Itulah ekspresi saya mengetahui kami mendapat kamar di Lantai 15. Heuheuu saya memang tidak suka ketinggian, andai saja ada pilihan di lantai 1 saya pasti akan pilih itu deh. 

Menginap di salah satu hotel ternama di Jakarta memang suatu anugerah. Alhamdulillah Allah Swt mampukan kami mengajak orang tua untuk menginap di sini. Hotel tua ini berada di pusat kota Jakarta. Adapun alasan kami memilih tempat ini adalah adanya akses langsung menuju gedung JCC. 

Sayangnya, travelator yang menghubungkan The Sultan dan JCC ini tidak diaktifkan, hanya arah JCC-The Sultan yang dinyalakan. Menurut informasi sih, walking belt The Sultan-JCC ini akan dinyalakan bila ada event tertentu. 

Menginap di lantai 15 itu kan cukup tinggi ya, berharap semoga ada sesuatu yang menarik yang bisa ditangkap kamera. 

Sekarang untuk beberapa ruas jalan di Jakarta sudah diterapkan sistem plat nomor ganjil-genap. Artinya, tanggal ganjil hanya boleh dilalui oleh kendaraan berplat nomor ganjil, and vise versa. Kalau kita lihat dari pantauan gedung ini, sepertinya lalu lintas bisa dikendalikan dengan baik. Kemacetan yang umumnya terjadi ada di beberapa ruas jalan yang mengalami penyempitan akibat proyek MRT.

Jakarta oh Jakarta. Kalau saja kamu bisa bersuara mungkin kamu akan berkata, "Cukup, aku lelah dan ingin istirahat sejenak di malam hari agar bisa beraktivitas esok hari dengan penuh semangat." Jakarta, memang seolah ia tidak pernah tidur. Malam hari bahkan hingga pagi dini hari masih banyak lampu kendaraan kelap-kelip di jalanan ibukota. 

Ah, namun bagaimanapun kamu dengan segala problematikanya, aku tetap cinta. Kota kelahiran yang kini sangat modern dan serba ada. Berharap semoga "kesehatanmu" lekas membaik ya. Tidak ada lagi banjir, macet, dan berbelitnya jalur birokrasi.

Minggu, 10 Desember 2017

Apa Sih Diet Food Combining?


Saya paling suka memanfaatkan me-time dengan menulis. Karena menulis bukan sekadar menggerakkan jemari, tapi ada tanggung jawab pada Sang Pencipta. Semoga apa yang terketik di sini bisa menjadi manfaat bagi banyak orang dan menjadi pemberat timbangan kebaikan Aamiin.
***
Mungkin banyak yang beryanya-tanya apa sih diet Food Combining itu? Diet biar kurus ya? 
Mendengar kata diet, kebanyakan orang langsung berasumsi bahwa itu adalah cara makan untuk menurunkan berat badan. Padahal arti diet itu sendiri sebetulnya adalah pengaturan makan baik jenis, porsi, maupun gizi.

Sebagai contoh, ada orang yang membutuhkan asupan kalori dan protein yang banyak, dalam hal ini bisa kita sebut orang tersebut sedang melakukan diet TKTP (Tinggi Kalori Tinggi Protein). Ada juga orang yang menderita penyakit Diabetes Mellitus sehingga pola makannya disebut diet DM. Demikian juga ada orang yang menganut makan hanya produk nabati atau vegetarian maka pola makannya kita sebut diet vegan. Nah, demikian juga dengan Food Combining tujuannya belum tentu untuk langsing, tapi mereka yang menjalani pola makan ini bisa kita sebut Diet Food Combining atau Diet FC. So, paham ya, diet itu tidak identik untuk langsing atau menurunkan berat bedan, tetapi lebih kepada sebutan untuk sebuah pola makan.

Dulu saat pertama kali mendengar FC, saya sangat penasaran karena dalam FC ini begitu melarang makan produk pati dengan protein hewani secara bersamaan. Alasannya adalah enzim untuk memecah pati tidak bisa bekerja manakala bertemu pepsin si enzim pemecah protein di lambung. Dari situ saya mulai menelusuri banyak referensi baik online maupun offline.
Nah, sekarang apa sih diet Food Combining itu? Food combing adalah pengaturan pola makan yang menekankan pada keserasian menu makan sesuai fungsi alamiah tubuh. Maksudnya? Begini, dalam hal sistem cerna, tubuh kita sudah didesain oleh sang Pencipta dengan segala macam enzim. Enzim-enzim tersebut berbeda fungsinya. Enzim untuk memecah karbohidrat berbeda dengan enzim untuk memecah protein, demikian juga dengan enzim untuk memecah lemak yang berbeda dengan enzim pemecah protein dan karbohidrat. Perbedaan enzim ini memiliki kondisi yang berbeda pula dalam hal cara kerjanya. Tidak hanya itu kerja enzim pun dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti pH, suhu, konsentrasi enzim, dan konsentrasi substrat.
Jadi bisa dipahami ya mengapa kita tidak dianjurkan makan karbohidrat bersamaan dengan protein hewani. Dalam hal pH, enzim amilase dapat bekerja dengan optimal pada kisaran pH 6.8-7. Sementara protein hewani sifatnya asam dan kedatangan protein hewani merangsang produksi asam lambung untuk mengubah pepsinogen menjadi pepsin agar bisa memecah protein. Bisa dibayangkan kan ketika amilase membutuhkan kondisi pH netral untuk memecah karbohidrat sementara justru asam yang keluar, maka aktivitas enzim ini menjadi terganggu. Hal ini juga menjelaskan mengapa kita dianjurkan makan nasi dengan sayur-sayuran segar. Karena sayuran tersebut sifatnya cenderung basa. Dari sini juga bisa kita pahami, agar tidak makan dalam keadaan masih panas, karena suhu yang panas dapat merusak aktivitas enzim. Maka, tunggulah uap panas pada makanan hilang.

Membaca penjelasan di atas, sekarang tentu kita lebih mudah memahami bagaimana harus menyusun keserasian menu pada FC.

Menu Serasi tersebut adalah
Karbohidrat + sayur + protein nabati
Contoh : nasi merah + gado-gado + tahu/tenpe goreng.
Atau
Protein hewani + sayur + protein nabati
Contoh :
Pepes ayam + sepiring lalapan + tumis jamur

Menu tidak serasinya adalah
Karbohidrat + protein hewani
Contoh : Nasi + ayam penyet

Apakah sekadar itu diet FC? Tidak! Sejak bangun tidur pagi hari, perbedaan FC dari diet lainnya adalah soal jeniper (jeruk nipis peras hangat) atau jelemper (jeruk lemon peras) yang juga hangat. Tujuannya apa? Sejak semalaman tubuh kita aktif menyerap makanan. Dan organ hati yang bertugas memilah mana makanan yang baik untuk disimpan dalam tubuh dan mana yang tidak berguna dan harus dibuang. Tugas hati yang cukup berat tersebut kita apresiasi dengan segelas jelemper atau jeniper hangat sebagai tonik untuknya dan membersihkan sisa metabolisme atau lendir yang menempel pada dinding saluran cerna.

Apa sih tujuannya makan kok harus di mix and match begitu? Tentu kita ingin tubuh dalam keadaan seimbang dan berjalan sesuai dengan fungsinya secara benar atau yang kita sebut homeostasis. Saat tubuh dalam keadaan seimbang fungsi dan kerjanya, maka tubuh dapat menjalankan perannya dengan sempurna, menyerap nutrisi secara optimal, meminimalisir penumpukan sisa metabolisme, dan penggunaan energi yang efisien.

Apa rasanya makan dengan menu demikian? Kalau sudah merasakan manfaatnya, maka soal rasa adalah nomor sekian.

Saya pikir demikian dulu ya sekilas tentang FC. Nantikan pembahasan yang lebih detail di post-post selanjutnya.
Salam FC!

Selasa, 05 Desember 2017

[RESENSI] Hidup Sehat Dengan Food Combining


Judul : Food Combining Itu Gampang
Nama Penulis : Erikar Lebang
Penerbit : Qanita
Tahun Terbit : Cetakan pertama, 2014
Jumlah Halaman : 144 halaman
ISBN : 978-602-1637-70-8
Harga Buku : Rp 51.000,00

Walaupun ini bukan buku baru, namun saya sangat tertarik mengangkatnya. Tema kesehatan apalagi seputar gaya hidup sehat akan selalu menarik untuk diulas. Ya, menjadi sehat memang dambaan setiap orang. Namun, sepertinya masih banyak yang belum tahu bagaimana melakukan gaya hidup sehat melalui cara mengonsumi makanan.

Memang, sudah sejak kecil kita dikenalkan dengan pola makan 4 sehat 5 sempurna. Di mana harus ada karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur-mayur, dan disempurnakan dengan susu dalam satu porsi makan.

Nyatanya dalam bukunya, Erikar Lebang memaparkan hal yang berbeda dari apa yang dulu kita pelajari. Dengan bahasa yang sederhana, santai, namun serius beliau menjelaskan seluk-beluk Food Combining sebagai pilihan hidup sehat. Beliau juga menjabarkan beberapa kekeliruan yang kerap kita lakukan dalam memadumadankan makanan.
 
Sebagai contoh, dalam keseharian menyantap nasi dengan ayam penyet adalah hal yang wajar, namun bagi pelaku Food Combining hal tersebut justru sangat tidak dianjurkan. Lalu bagaimana? Pilihannya adalah karbohidrat atau nasi dengan sayur terutama raw veggies atau protein hewani atau ayam penyet dengan sayur. Mengapa jawabannya ada dalam buku bersampul hijau ini.
 
Pola makan Food Combining (FC) sebenarnya bukan suatu metode yang aneh atau dibuat-buat, juga tidak mengurangi satu unsur makanan secara ekstrem. Pola makan ini lebih mengacu pada mekanisme pencernaan alamiah tubuh dalam menerima jenis makanan yang serasi sehingga tubuh dapat memproses semua itu dengan baik dan mendapat hasil secara maksimal. (Hal. 31)

Bagaimana pola makan serasi-tidak serasi? Dalam FC, karbohidrat pantang disatukan dengan protein hewani, karena enzim yang bekerja untuk keduanya berbeda. Sementara amilase, enzim pemecah karbohidrat tidak bisa bekerja manakala bertemu pepsin, yakni enzim pemecah protein. Padanan yang serasi untuk sebuah menu makanan adalah karbohidrat, protein nabati, dan sayur atau kombinasi protein hewani, protein nabati, dan sayur.

Dalam bukunya, Erikar juga menekankan pentingnya konsumsi air berkualitas dalam jumlah yang cukup, sekitar 2.5 liter air atau setidaknya 8 gelas sehari. Kekurangan air akan membuat pH tubuh bergeser ke sisi asam. Kondisi tubuh yang asam sangat rentan terhadap munculnya berbagai penyakit. Buku ini juga menjelaskan bagaimana cara dan kapan minum air yang tepat. Diawali dari segelas air perasan jeruk nipis atau jeruk lemon hangat saat bangun tidur dilanjut beberapa saat dengan air putih hingga kemudian mengawali pagi dengan sarapan buah.

Sarapan buah? Tidak salah? Nah, buku ini juga menjelaskan ritme biologis tubuh. Di mana ada tiga fase yang dialami tubuh kita terkait sistem cerna. Mulai dari pukul12.00-20.00 adalah waktu cerna di mana kita saatnya makan berat di sini, pukul 20.00-04.00 waktu penyerapan di mana mengonsumsi makanan pada fase inu akan menggangu proses yang semestinya terjadi, dan pukul 04.00-12.00 sebagai fase pembersihan. Itu sebabnya pagi hari kita sangat dianjurkan sarapan dengan buah agar tidak memberatkan kerja sistem cerna kita. Gula pada buah pun sangat mudah diserap dan memberikan cukup energi yang siap pakai. Kalau lapar? Makan lagi buahnya hingga tiba jam makan siang.

Edisi terbaru di buku ini dilengkapi dengan tanya-jawab serta petunjuk pelaksanaan food combining yang tepat. Tidak hanya itu ada halaman khusus testimoni para pelaku food combining, bahkan banyak public figure yang juga menerapkan pola makan ini.

Yang bilang #foodcombining ribet, berarti cuma tahu "permukaannya" saja. Padahal, kalau mau dicari tahu lebih dalam sedikit saja, inilah cara TERMUDAH untuk hidup sehat dan tentu dengan bonus yang menyenangkan. Langsing! -Cici Panda, Presenter

Selepas membaca buku ini, kita akan sangat tercerahkan tentang gaya hidup sehat melalui cara Food Combining. Melakukan food combining sulit? Kata siapa? Membaca buku ini akan kita temui beragam kemudahan dalam menerapkannya. 
 
Jakarta, 05 Desember 2017

Minggu, 12 November 2017

Jakarta #MenujuSmartCity; Ini Solusi Cerdasku Atasi Kemacetan


Macet lagi ...
Macet lagi ...
Gara-gara Si Komo lewat ...
*singing

Eh, jadi inget masa kecil. Ternyata kita sudah familiar dengan istilah macet sejak dulu ya. Sejak  jumlah penduduk belum sebanyak sekarang,   sejak pembangunan infrastruktur tidak semasif saat ini, juga sejak kendaraan tidak sebanyak semut ketika bertemu gula. Hehe ...

Belakangan ini Jakarta lagi enggak asyik banget buat tempat jalan-jalan. Dimana-mana sedang ada proyek pembangunan MRT (Mass Rapid Transit). Tahu kan MRT?Itu lho moda transportasi masal cepat. Efek pengerjaan ini adalah adanya pemangkasan jalur, yang semula 3 jalur karena sedang ada pengerjaan jalan jadi tinggal 1 jalur. Kebayang kan macetnya seperti apa, apalagi di jam-jam sibuk.

Tapi, itu bukan satu-satunya biang keladi kemacetan di Jakarta. Jumlah penduduk yang meningkat, kebutuhan mobilisasi individu yang tinggi, juga pertumbuhan ekonomi yang baik turut menyumbang angka kemacetan di Jakarta khususnya. Pertumbuhan ekonomi ini erat kaitannya dengan peningkatan daya beli masyarakat terhadap kebutuhan primer, sekunder, hingga tersier.

Mobil atau motor sendiri awalnya adalah kebutuhan sekunder. Namun seiring waktu melihat kondisi lingkungan yang tidak memungkinkan untuk naik transportasi umum dan alasan penghematan maka bagi sebagian orang kendaraan bermotor kini berubah menjadi kebutuhan primer.

Dua tahun yang lalu saya pernah mengalami kemacetan parah. Masih ingat betul kejadian di sabtu malam itu. Perjalanan dari bilangan Fatmawati  ke Karang Tengah, Lebak Bulus memakan waktu hingga dua jam. Padahal normalnya hanya 5 menit. Sejak saat itu kami enggan keluar hari sabtu terutama sore hingga malam hari. Entahlah, mungkin karena para pekerja yang liburnya sabtu-minggu, prefer berjalan-jalan di hari sabtu agar minggu bisa istirahat di rumah.

Memperhatikan kondisi lalu-lintas yang makin menggila di Jakarta, rasa-rasanya kalau tidak ada keperluan lebih enak di rumah. Kalaupun saya terpaksa harus keluar rumah, saya usahakan untuk tidak keluar di jam macet. Memang ada waktu-waktu tidak macet di Jakarta? Hmm, yah setidaknya lumayanlah untuk tidak terjebak macet yang parah.

Tips menghindari macet versi saya adalah ...

  • Kalau ada keperluan di pagi hari lebih baik keluar pagi sekalian. Misalkan selepas solat subuh langsung berangkat.
  • Kalau ada keperluan siang-sore hari, berangkatlah di waktu-waktu orang kantor sudah mulai masuk, dan kembalilah sebelum arus pulang kantor datang. Berangkat mulai jam 09.00 dan pulanglah maksimal jam 15.00.
  • Kalau selesai acara malam, pulanglah malam sekalian. Sekitar jam 21.00, ini pun kadang beberapa ruas jalan masih macet.
  • Kalau terpaksa harus berangkat dan pulang di waktu macet, gunakanlah transportasi umum seperti ojek online.
Nah, itulah tips dari saya ketika kamu ingin keluar menyusuri Jakarta. Sebetulnya kalau tidak macet kita bisa lho menjelajah Jakarta dari ujung barat hingga timur, utara hingga selatan, bahkan dalam waktu satu hari. Iya satu hari, karena memang sebenarnya di Jakarta itu kemana-mana dekat apalagi sudah banyak tol dan jalan alternatif.

Aah, seandainya saja Jakarta tidak macet dan tumbuh menjadi kota megapolitan yang memiliki moda transportasi yang aman, nyaman, bersih, dan service excellent bukan tidak mungkin warganya justru lebih memilih naik angkutan umum ketimbang kendaraan pribadi.

Sering kali ketika macet ide liar saya muncul. Kalau di film-film mungkin akan ada satu awan putih cantik di atas kepala saya dengan gambaran kota Jakarta yang hadir seperti cerita skenario saya. Penasaran dengan apa skenario saya untuk Jakarta tercinta?

Jadi begini ...


Seandainya saja tidak ada mobil yang berusia lebih dari 10 tahun berkeliaran di Jakarta mungkin angka kemacetan bisa turun cukup signifikan.
Bagaimana pelaksanaannya??
  • Kita bisa kerahkan petugas lantas untuk konsisten menjaring kendaraan yang berusia lebih dari 10 tahun. Bila terjaring berikan sanksi tilang untuk kemudian diproses di pengadilan untuk penjadwalan pemusnahan mobil.
  • Whuat?? Mobil dimusnahkan begitu saja? Tenang ... Impian saya sih jadi saat membeli mobil kita dapat cash-back 3-5 juta ketika mobil dimusnahkan, atau 1-2 juta untuk motor. Padahal sebetulnya cash-back tersebut sudah dimasukkan dalam daftar harga saat beli kendaraan. Jadi memang perlu ada kerjasama dengan pihak produsen mobil. Setiap pembelian kendaraan sekian juta atau sekian % dimasukkan ke rekening yang berwenang untuk kemudian tiba saatnya pemusnahan bisa diklaim oleh customer.
  • Bila lewat masa pemusnahan, maka cash-back tersebut hangus, demikian pula bila diajukan lebih cepat dari jadwal pemusnahan.
  • Dalam hal ini perlu ada perusahaan khusus yang menangani pemusnahan kendaraan untuk bisa diolah menjadi barang yang lebih berguna. Adakan tender bagi siapa yang bisa mengolah kendaraan menjadi barang lain yang banyak manfaatnya bahkan bisa zero-waste maka perusahaan itulah yang berhak memegang proyek ini.
  • Bagi mereka yang mungkin karena alasan kendaraannya penuh nilai sejarah atau barang antik maka bisa saja tidak dimusnahkan dengan catatan berikan pajak 4-5 kali lipat dan itupun hanya boleh keluar di hari sabtu, minggu, atau hari libur nasional.
  • Hmm, orang jadi mikir-mikir ya mau beli mobil? Nanti perusahaan mobil gak laku dong? Tenang, karena memang sebetulnya mobil adalah kebutuhan sekunder maka hanya yang benar-benar butuh dan mampu yang memilikinya. Saat ini banyak kita jumpai mobil jenis LCGC dibanderol dengan harga mulai dari 100-200jutaan.
    Katakan saja 200juta yang sudah memenuhi standar layak sebuah kendaraan roda empat. Bila mobil tersebut dimusnahkan 10 tahun mendatang, itu artinya pembeli mengeluarkan 20juta/tahun atau 1.6juta perbulan untuk sebuah mobil. Bila harganya dibawah 200juta tentu perhitungan perbulannya lebih murah lagi. Masih cukup rasional bagi sebuah keluarga untuk memiliki mobil, namun cukup membuat sebagian berpikir 2 hingga 3 kali untuk memiliki sebuah kendaraan pribadi.   
    Seandainya saja transportasi umum di Jakarta ramah-penumpang. Mungkin akan banyak warga yang lebih memilih naik kendaraan umum ketimbang kendaraan pribadi.
Bagaimana caranya?
  • Keamanan adalah faktor utama yang membuat masyarakat memutuskan bersedia naik kendaraan umum atau tidak. Maka, yakinkan masyarakat bahwa transportasi umum kita aman dengan cara sediakan petugas keamanan di halte, terminal termasuk di dalam kendaraan tersebut. Katakanlah 1 perugas untuk 3 gerbong kereta atau 1 petugas di bus TransJakarta. 
    Kalau kita lihat di mall-mall besar akan ada petugas yang berjaga di dalam lift. Seperti itulah gambarannya. Atau bila tidak memungkinkan, pasang CCTV atau penyadap suara di dalam kendaraan. Jadi kita bisa tahu siapa penumpang yang naik-turun dan apa yang mereka perbincangkan. Sisi positifnya warga menjadi lebih santun dalam berucap. Nah, kalau di pesawat kita mengenal dengan black box. Tidak hanya itu supir pun harus melalui tahap seleksi dan bersertifikasi, supaya tidak ugal-ugalan dan mengerti etika berkendara yang baik.
  • Setelah dipastikan aman, ternyata warga butuh kenyamanan, terutama bagi wanita, ibu hamil, ibu dengan anak kecil, lansia, dan difabel. Seringkali saya perhatikan kurangnya perhatian untuk kaum difabel, tangga penyeberangan atau tangga menuju halte TransJakarta tidak tersedia jalur difabel. Belum lagi penumpang yang merokok seenaknya, tanpa memperhatikan bahwa ada anak kecil, ibu hamil, dan lansia di dekatnya. Stop merokok di kendaraan umum!
  • Kebersihan juga sebetulnya masuk dalam kenyamanan. Cuma di sini saya membayangkan seandainya di tiap pemberhentian baik itu halte, bus, stasiun, disediakan petugas kebersihan, malah kalau bisa standby di dalam kendaraan, mungkin bus itu tidak sekadar bersih tapi juga wangi.
  • Harapannya setiap angkutan umum memiliki perusahaan penanggung jawab. Misalkan si angkot dikelola oleh perusahaan xyz, kopaja oleh pqr, dan semacamnya. Sehingga apabila ada masalah memudahkan pengaduan dan permintaan akan tanggung-jawabnya juga memiliki keseragaman standarisasi kelayakan suatu transportasi umum. Sang supir bekerja secara profesional dengan gaji yang cukup.
  • Untuk menghindari tarif yang menembak dengan alasan tidak ada kembalian atau semacamnya, maka sistem pembayarannya menggunakan e-money seperti yang sudah berjalan saat ini.
  •  Kalau itu semua berjalan dengan baik, insya Allah Jakarta bebas macet dan kita bisa prediksi waktu tempuh perjalanan kita karena setiap transportasi umum bjsa datang tiap 5-10 menit sekali.

Dukung Virtual office
Sebelumnya sudah tahu kan apa itu Virtual Office? Ya jadi menurut wikipedia, Virtual Office itu adalah sebuah "ruang kerja" yang berlokasi di dunia internet, di mana seorang individu dapat menyelesaikan tugas-tugas yang diperlukan untuk melaksanakan bisnis profesional atau pribadi tanpa memiliki "fisik" lokasi usaha.


Bagaimana penerapannya???
  • Sebetulnya tidak semua pekerjaan mengharuskan pegawainya datang ke kantor. Ada beberapa divisi atau pekerjaan yang memungkinkan tugasnya untuk dikerjakan dari rumah. Pegawai tetap bisa melaksanakan kewajibannya dengan baik dengan pantauan webcam sesuai jam kerja di kantor.
Keuntungan virtual office:
  • Bagi perusahaan
Hemat biaya operasional. Hal ini biasanya sangat dirasakan bagi perusahaan start-up dimana mereka tidak perlu membeli atau menyewa gedung yang besar untuk menampung banyak karyawan. Cukup sewa tempat sesuai kebutuhan di lokasi yang strategis, maka nilai perusahaan pun di mata klien akan naik karena lokasi dan tempat yang prestisius.
  •   Bagi karyawan
Hemat biaya transport dan makan. Misalkan saja seorang pegawai perlu mengeluarkan uang Rp. 30.000/hari untuk transport dan 40.000/hari untuk makan, dengan waktu kerja 5 hari dalam seminggu. Artinya mereka harus merogoh kocek 1.4juta/bulan untuk transportasi dan makan. Bekerja dari rumah juga dapat mengurangi stres karena seorang pegawai tidak perlu mengalami kemacetan di jalan atau pusing mencari parkir. Selain itu, bekerja dari rumah menjadikannya lebih dekat dengan keluarga. Seorang pegawai wanita yang berstatus ibu menyusui dapat dengan mudah memenuhi kebutuhan ASI buah hatinya. Demikian dengan pegawai yang berstatus sebagai seorang bapak. Perhatian sang anak akan tetap terpenuhi karena melihat ayahnya bekerja dari rumah.
  • Bagi Lingkungan
Mengurangi polusi! Ramai kita dengar gerakan peduli lingkungan. Ternyata virtual office pun turut berperan menjaga bumi kita yang mulai panas ini. Dengan bekerja dari rumah, artinya turut meminimalisir jumlah kendaraan yang beredar di jalan. Akibatnya udara Jakarta pun bisa sedikit lebih baik akibat berkurangnya gas buang dari kendaraan bermotor. Tidak hanya itu, virtual office turut menyumbang udara berkualitas yang baik bagi kesehatan. Gas buang dari kendaraan banyak macamnya seperti CO (karbon monoksida), Pb (timbal), CO2 (karbon dioksida), dan sebagainya, dan iti semua tidak baik bagi kesehatan. Semakin sedikit kendaraan yang beredar di jalan, semakin sedikit gas buang kendaraan, semakin ramah udara untuk kesehatan, sehingga kualitas hidup masyarakatnya pun lebih baik.
  •   Bagi Pemerintah
Kemudahan akses bagi pejabat, mobil kesehatan seperti ambulans, juga pemadam kebakaran (damkar), dan polisi. Berkurangnya jumlah kendaraan yang beredar di jalan akan memudahkan mana kala terjadi keadaan yang tidak terduga, seperti ada tamu negara yang lewat, mobil ambulans yang membawa pasien kritis, juga mobil damkar agar lokasi kebakaran bisa cepat padam. Menghemat anggaran negara. Banyak aspek yang bisa dipangkas dari diterapkannya virtual office ini. Mulai dari sekadar biaya cuci piring dan gelas di pantry, pembersih toilet karena tidak banyak pengguna, listrik karena tidak ada AC dan lampu yang perlu dinyalakan hingga menghemat reimburse dari uang tol dan bensin bila ada. 

This is my smart ideas for my smart city. Ada harapan dari saya sebagai warga Ibukota untuk menjadikan Jakarta sebagai kota yang lebih humanis. Setitik ide saya semoga bermanfaat mengurai kemacetan yang ada di Jakarta khususnya dan Indonesia umumnya.

#Menuju100SmartCity
#MenujuSmartCity

Jumat, 10 November 2017

Hotel Aviary Bintaro; Modern, Cozy, Kids-Friendly



Buat kamu yang ada acara di Bintaro dan perlu menginap di tempat yang nyaman mungkin hotel Aviary bisa jadi pilihan. Hotel baru ini berada di jalur utama Bintaro Jaya. Lokasinya sangat strategis berada di antara pusat bisnis, pertokoan, mall hingga sekolah.

Awalnya saya tidak mengira kalau ini adalah sebuah penginapan, karena selain tidak ada tulisan hotel, desain luarnya juga serupa dengan kantor-kantor di sekitarnya. Namun, jangan salah, dibalik desainnya yang begitu saja, ada satu area di lobby yang menarik perhatian si kecil yaitu taman burung mini.
Lobbynya luas, kental nuansa alamnya
Taman burung mini

Selagi menunggu proses cek-in yang gak pakai ribet, si kecil bisa melihat-lihat aneka burung sambil berteriak "kak, kak, kak". Burung-burung pun keluar dari sarangnya dan bersahutan menjawab "kak, kak, kak". Aah seru hal ini jadi nilai tambah buat kami, karena si kecil sangat menikmatinya.

Waktu itu kami dapat kamar di lantai 3. Perlu naik 1 lantai lagi yaitu lantai P untuk menikmati fasilitas kids corner, kolam renang, dan fitness center. Karena lantai P ini semi terbuka jadi, anginnya cukup kencang. Apalagi kalau hujan deras sepertinya tidak memungkinkan untuk beraktivitas.
Semi-outdoor, anginnya cukup kencang

Kids cornernya ini tidak ada pengawasan dari pihak hotel. Jadi kalau anak-anak mau bermain orang tua wajib menemani. Areanya cukup luas dan bersih. Kolam renang pun demikian, temani si kecil saat berenang ya moms. Airnya cukup dingin mungkin karena malam sebelumnya hujan. Sayangnya, saat kami mau gunakan fasilitas ini di sekitar jam 08.30 kolamnya justru sedang dibersihkan. Padahal jam segitu, jamnya orang berenang kan ya? Hihi #caripembenaran.
Airnya lumayan dingin, brrr...

Kamar yang kami tempati tipe Deluxe di harga 700an/kamar/malam sudah termasuk breakfast untuk 2 orang eh 3 deh sama si kecil. Pertama kali masuk kamarnya sih sayangnya yang tercium sedikit bau kurang sedap, saya pun mengecek kamar mandi tapi yang tampak malah bekas shampoo tamu sebelumnya.
Viewnya ya ... gitu aja deh
Hiks.. kesan pertama untuk kamar gak banget ya. Suami pun menelpon housekeeping untuk minta dibersihkan dan katanya bau itu karena saluran airnya kering. Oke, baiklah staff yang ramah itupun telah meminta maaf karena ketidaknyamanan yang kami dapatkan. Oya, kalau biasanya sabun itu kita dapatkan secara eksklusif pertamu, tapi di Aviary ternyata sabunnya itu bisa kita gunakan rame-rame, karena mereka gunakan sabun dan shampoo cair botolan yang bisa dipakai berkali-kali oleh para tamu. Jadi buat kamu yang gak nyaman sabun seperti ini jangan lupa siapkan sabun dan shampoo sendiri. Perlengkapan yang lain sih OK.
Kok bisa ada bungkus shampoo???

Untuk makan siang dan malam gak usah bingung, banyak makanan sekitar kok tapi tetap harus pakai kendaraan, atau kalau mager alias males gerak di-go-food aja, banyak kuliner enak di sini, salah satunya Bakso Boedjangan yang endesss surendes.

Nah kalau yang dapat jatah breakfast mah gak usah bingung, tinggal cus ke lantai G ke ruang eatery. Menunya beragam dan enak-enak. Cuma pas saya sarapan di sana tidak ada nasi putih entah kebetulan atau memang demikian adanya. Jadi buat si kecil saya minta sendiri ke waitersnya. Yang enak itu menurut saya dimsumnya.
Ini menu sarapanku untuk si FCers.

Bicara soal makanan saya jadi ingat ada sedikit pengalaman kurang menyenangkan juga. Jadi waktu itu hampir jam 11 malam saya laper banget, saya pun menelpon restoran, saya pesan nasi goreng aviary, kamar xxx ya mba, "pesan saya begitu". Oke si mba ini bicara cepet banget, sementara saya udah antara lapar dan ngantuk. Si mba ini mengulangi orderan saya & sependengaran saya sudah sesuai, silakan ditunggu sekitar 15 menit ternyata sampai jam 23.30 belum datang juga, saya pun menelpon lagi, katanya sudah diantar tapi ke lantai yxx. 

Whuatttt??? Kamar saya kan di xxx. Si mbak ini berinisiatif memasukkan orderan lagi, langsung saya bilang gak usah deh mba udah ngantuk. Saya jadi mikir, kan biasanya kalau ditelpon line kamarnya nyala ya tanpa perlu kita sebut kamar berapa dia juga udah tau mestinya. Aah sudahlah, sudah malam, mungkin sama-sama ngantuk.

Bagusnya ini hotel suasananya nyaman banget, mengusung konsep green living bagus untuk segala kebutuhan seperti pertemuan bisnis, liburan keluarga hingga rapat. Desain interiornya juga modern, perpaduan warna alam antara hitam, abu, hijau membuat suasana lebih tenang dan rileks.

Naah, demikianlah review saya kali ini di hotel Aviary Bintaro. See you on next review.